Tobacco Mosaic Virus (TMV)/ Virus Mosaik Tembakau

26 02 2009

Morfologi /Daur Penyakit
Virus TMV pada tanaman ditularkan secara mekanis atau melalui benih. Virus ini belum diketahui dapat ditularkan melalui vektor (serangga penular). Virus dapat bertahan dan bersifat infektif selama beberapa tahun. Virus bersifat sangat stabil dan mudah ditularkan dari benih ke pembibitan pada saat pengelolaan tanaman secara mekanis misalnya pada saat pemindahan bibit ke pertanaman.

Gejala Serangan
Virus mosaik : daun tanaman yang terserang menjadi berwarna belang hijau muda sampai hijau tua. Ukuran daun relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran daun normal. Jika menyerang tanaman muda, pertumbuhan tanaman terhambat dan akhirnya kerdil

Gejala yang timbul sangat dipengaruhi oleh suhu, penyinaran, umur tanaman, kultivar/varietas tanaman, serta strain virus. Secara umum gejala yang timbul dapat dikelompokkan :

a). Gejala mosaik dan mottle pada daun (pada musim panas di rumah kaca) warna belang bercampur lebih dari satu warna. Mosaik pada daun biasanya berwarna pucat atau kekuning-kuningan yang menyebar berupa percikan-percikan. Pada kondisi intensitas rendah dan suhu rendah terjadi gejala kerdil dan malformasi daun (fern-leaf) dimana adanya perubahan bentuk menjadi tidak sempurna atau tidak normal pada daun dan buah.
b). Gejala klorosis berupa warna pucat, baik pucat yang menyeluruh maupun hanya berupa bercak saja.
c). Gejala vein-clearing : warna pucat pada urat daun sehingga urat daun kelihatan transparan dan berkilau diantara warna daun yang hijau.
d). Gejala nekrotik : kematian jaringan, biasanya terjadi pada urat daun, batang berupa garis-garis coklat, bercak pada daun atau bercak cekung nekrotik pada buah, dan kematian pada titik tumbuh.

Tanaman Inang
Tanaman yang termasuk famili Solanaceae, Amaranthaceae, Aizoaceae, dan Scrophulariaceae.

Pengendalian
– Menggunakan bibit tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah terserang,
– Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat,
– Penanganan bibit secara hati-hati agar tidak bersentuhan satu sama lain,
– Menghindari menanam tomat pada lahan yang sama untuk jangka waktu minimum 7 bulan,
– Benih dapat dibebaskan dari kontaminasi virus dengan cara merendam benih dalam larutan 10 % (w/v), Na3 PO4 selama 20 menit,
– Perlakuan benih dengan pemanasan (heat treatment) pada suhu 70o C selama 2 – 4 hari dapat mengeradikasi virus yang terbawa dalam endosperm.

Sumber : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id





Ragan dan Cara Perbanyakan Tanaman

8 01 2009

Ragan dan Cara Perbanyakan Tanaman

Perbanyakan tanaman sering dilakukan oleh para penangkar tanaman, penjual bibit atau para hobi-is. Bertujuan menghasilkan tanaman baru sejenis yang sama unggul atau bahkan lebih. Caranya dengan menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari tanaman induk yang memiliki sifat unggul.

Secara umum perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan tiga tehnik yaitu perbanyaka generatif, vegetati, dan generatif-vegetatif. Cara perbanyakannya sendiri dilakukan dengan cara menanam biji atau anakan, cangkok, stek, rundukan, menempel (okulasi) serta menyambung (Grafting).

Setiap tanaman memiliki cara perbanyakan yang berbeda dengan tanaman lainnya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan dalam melakukannya. Salah satunya adalah jenis tanaman itu sendiri. Sebagai contoh: tanaman sukulen seperti pisang hanya dapat diperbanyak dengan menanam anakannya atau dengan stek akar. Sementara itu, tanaman berbatang kayu seperti durian tidak dapat diperbanyak dengan anakan. Karena itu, sebelum melakukan perbanyakan tanaman harus disesuaikan antara cara perbanyakan tanaman yang digunakan dan jenis tanaman yang akan diperbanyak.

Tabel : Cara perbanyakan beberapa tanaman buah

Jenis Tanaman

Cara Perbanyakan

Biji

Setek

Cangkok

Okulasi

Sambung

Susuan

Anakan

Alpukat

*

-

+

+

+

-

-

Anggur

-

+

+

-

-

?

-

Apel

+

-

+

+

+

?

-

Belimbing

*

-

*

+

+

+

-

Belimbing Manis

*

-

+

+

+

+

-

Cempedak

+

-

*

+

+

+

-

Delima

-

+

+

-

-

?

-

Duku

*

-

*

+

+

+

-

Durian

*

-

-

+

+

+

-

Gandaria

+

-

+

+

+

?

-

Jambu Air

-

+

+

-

-

-

-

Jamblang

+

-

-

+

+

?

-

Jambu Biji

+

+

+

+

+

-

-

Jeruk

+

+

+

+

+

-

-

Kecapi

+

-

-

-

-

-

-

Kedondong Lokal

+

-

*

*

*

*

-

Kedondong bangkok

+

-

-

-

-

-

-

Kesemek

-

-

-

+

+

?

-

Keluwih

+

-

-

-

-

-

-

Leci

+

-

-

-

-

-

-

Lengkeng

+

-

-

+

+

?

-

Mangga

*

-

+

+

+

+

-

Manggis

+

-

-

-

+

+

-

Nangka

+

-

*

+

+

+

-

Nangka Mini

+

-

-

-

-

-

-

Nona

+

-

-

+

+

?

-

Pepaya

+

-

-

-

-

-

-

Pisang

-

-

-

-

-

-

+

Rambutan

*

-

+

+

-

+

-

Salak

+

-

-

-

-

-

+

Sawo

-

-

+

-

-

-

-

Sirsak

-

-

*

+

+

+

-

Srikaya

+

-

-

+

+

?

-

Keterangan:

+ Baik

- Tidak Baik (gagal)

* Kurang Baik

? Belum diketahui

Persiapan Melakukan Perbanyakan Tanaman

A. Pohon Induk

Pohon induk adalah tanaman yang dijadikan bahan awal untuk kegiatan perbanyakan tanaman. Pohon induk bisa berasal dari hasil persilangan (hibrida), bibit biji, atau hasil perbanyakan secara vegetatif. Bagian dari pohon induk yang digunakan untuk bahan perbanyakan tanaman bisa berupa biji, akark, batang atau pucuknya.

Syarat Pohon Induk

Pohon induk dipilih dari tanaman yang sudah jelas asal usulnya dan keunggulan sifatnya, baik dari segi pertumbuhan, kuantitas dan kualitas potensi produksi, maupun ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit. Semua kriteria ini harus terpenuhi karena akan memenuhi kualitas bibit perbanyakan yang dihasilkan.

Sangat tidak dianjurkan memakai pohon induk yang sakit karena kemungkinan besar bibit perbanyakan yang dihasilkan juga akan membawa penyakit dari pohon induk. Selain itu, pohon induk juga harus dijaga dari kemungkinan terjadinya penyerbukan silang dengan tanaman lain yang tidak jelas asal usul dan keunggulan sifatnya. Jika ini terjadi, bibit perbanyakan yang dihasilkan akan memiliki keragaman sifat yang tinggi, tetapi belum tentu semuanya bersifat unggul.

Untuk memperbanyak tanaman keras dan tanaman buah tahunan, pohon induk dipilih Abu Sa’id al-Khudri tanaman yang sudah berbuah sedikitnya lima kali agar diketahui secara pasti keunggulan sifat buahnya. Sementara itu, untuk memperbanyak tanaman sayuran dan buah-buahan berumur pendek seperti tomat, cabai, pepaya, melon dan semangka; pohon induk dipilih dari tanaman yang bersosok kekar, pertumbuhannya baik dan sehat.

Mendapatkan Pohon Induk

Mendapatkan pohon induk bukanlah pekerjaan yang sulit karena saat ini sudah banyak penangkar bibit dan toko pertanian yang menjualnya. Pohon induk yang dijual berasal dari tanaman varietas unggull nasional atau varietas komersial. Varietas unggul nasional adalah tanaman yang telah diakui keunggulan sifatnya oleh pemerintah, dan ditetapkan dengan surat keputusan menteri pertanian tentang pelepasan varietas. Contohnya mangga arumanis 143, Belimbing Dewi, Durian Montong, dan Avocad BM Lebak. Sementara itu, varietas komersial adalah tanaman yang telah dikenal keunggulan sifatnya di pasaran, tetapi belum disahkan oleh pemerintah sebagai varietas unggul. Contohnya, Durian Gajah dari Manado, Belimbing Tasikmadu dari Tuban, dan Duku Palembang.

Selain membeli dari penagkar atau toko pertanian, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pohon induk.

a. Melakukan Eksplorasi

Eksplorasi adalah kegiatan melacak ke berbagai tempat yang diduga menjadi sentra tumbuhnya tanaman unggulan yang memenuhi syarat untuk dijadikan pohon induk. Prosesnya diawali dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang keberadaan tanaman yang dimaksud. Setelah informasi terkumpul, datangi lokasi untuk mengecek kebenarannya. Jika memang ada, dan kualitasnya benar-benar unggul, kita dapat membeli tanaman tersebut.

Informasi tentang keberadaan pohon induk dapat diperoleh dari media massa seperti koran, tabloid, atau majalah pertanian. Banyak jenis tanaman unggulan yang cocok dijadikan pohon induk dipublikasikan di media massa. Contohnya adalah durian bantal mas dari Sumatera Selatan dan Mangga Dodol asal Minahasa – Sulawesi Utara yang sekarang sudah ditetapkan sebagai varietas unggul nasional.

b. Arena Kontes atau Lomba

area kontes atau lomba merupakan ajang memperkenalkan dan mempromosikan tanaman berpotensi unggul yang dimiliki oleh masyarakat umum, penangkar, atau hobi-is. Cara ini banyak dilakukan oleh dinas-dinas pertanian di berbagai daerah untuk menjaring tanaman varietas unggul.

Biasanya tanaman yang dijadikan pemenang dikedua ajang ini disahkan dan dilepas oleh pemerintah sebagai varietas unggul nasional. Contohnya adalah durian petruk yang memenangi lomba durian yang digelar oleh dinas pertanaian kabupaten Jepara dan Belimbing Dewi yang memenangi lomba buang unggul yang digelar oleh Dinas Pertanian DKI.

c. Introduksi

introduksi adalah mendatangkan tanaman unggulan dari daerah lain atau dari luar negeri. Cara ini biasa dilakukan oleh para hobi-is yang ingin cepat mendapatkan pohon induk. Contohnya adalah si Otong dan Kani, dua jenis durian yang diintroduksi dari Thailand, dan sekarang menjadi durian unggul nasional contoh lain adalah lengkeng Pingpong dan Diamond River serta beragam jenis Aglaonema dan Adenium Hibrida yang juga berasal dari Thailand.

B. Bahan Tanam

Bahan tanam adalah bagian dari pohon induk yang digunakan untuk memperbanyak tanaman baik untuk perbanyakan secara generatif atau untuk perbanyakan secara vegetatif. Bahan tanam harus berasal dari pohon induk yang sehat dan telah diketahui silsilahnya, mudah dibiakkan, produktivitasnya tinggi, berbatang kekar, tumbuh normal serta memiliki perakaran yang kuat dan rimbun.

a. Bahan Tanamn untuk Perbanyakan Secara Generatif

bahan tanam yang digunakan adalah biji. Biji yang dipilih yang berukuran besar, bernas atau padat, warnanya mengkilap, bentuknya normal dan sempurna, serta segar dan sehat. Biji dengan spesifikasi seperti ini berasal dari buah yang tua atau matang pohon. Sementara itu, pemilihan juga harus disesuaikan dengan tujuan perbanyakan dan jenis tanamannya.

Untuk bibit bawah, biji dipilih dari pohon induk yang memiliki sifat unggul dalam hal fisik seperti mudah dibiakkan, memiliki perakaran yang kuat, banyak dan dalam, serta berbatang kekar dan normal. Selain itu, pohon induk juga harus tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan, tahan serangan hama dan penyakit, gampang mengeluarkan buah dan berproduksi terus menerus, serta berbiji cukup besar dan banyak agar dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan kembali.

Untuk pohon penghasil kayu seperti jati, mahoni, ulin dan nyatoh, biji dipilih dari pohon induk yang memiliki pertumbuhan tinggi, diameternya besar, batangnya tumbuh lurus, tajuknya normal sesuai karakter jenis, tahan serangan hama dan penyakit, mutu kayunya baik, umurnya cukup tua serta sudah pernah berbunga.

Untuk pohon penghasil makanan ternak, pupuk hijau atau untuk tanaman pagar hidup seperti lamtoro, biji dipilih dari pohon induk yang pertumbuhannya cepat, produksi daunnya tinggi, mudah diperbanyak secara vegetatif, tahan serangan hama dan penyakit, sosoknya pendek, serta tahan kering.

Untuk pohon penghasil buah, biji dipilih dari pohon induk yang pertumbuhannya baik, buahnya lebat dan besar, percabangannya pendek, umurnya cukup tua serta tahan serangan hama dan penyakit

Saat ini untuk beberapa jenis tanaman palawija, sayuran dan bunga potong sudah dapat dibeli di toko-toko pertanian. Biji-biji tersebut berasal dari produksi lokal seperti panah merah, kapal terbang, tuhu jogja, dan MGA atau produksi impor dari Known You Seed Taiwan dan taki’i Seed Jepang.

b. Bahan Tanam untuk Perbanyakan Secara Vegetatif

Bahan tanam untuk perbanyakan secara vegetatif sebaiknya berasal dari pohon induk yang telah diketahui silsilahnya, tingkat pertumbuhan, serta kualitas dan kuantitas produksi buahnya. Untuk stek, bagian vegetatif yang digunakan adalah batang, daun, akar atau umbi. Untuk cangkokan, rundukan, atau sambung susuan, bagian vegetatif yang digunakan adalah pohon induk secara keseluruhan. Sementara itu, bagian vegetatif yang digunakan untuk okulasi dan sambungan entres yaitu cabang yang diambildari bagian pucuk pohon induk.

Cabang entres harus dalam kondisi segar saat disambungkan atau ditempelkan di batang bawah. Oleh karena itu, setelah dipotong harus segera disambungkan atau ditempelkan di batang bawah yang telah disiapkan. Jika entres didatangkan dari lokasi yang berjauhan dengan lokasi batang bawah, diperlukan perlakukan khusus agar entres tetap segar.

Berikut ini langkah-langkah menjaga kesegaran entres:

Potong entres sepanjang 20-30 cm, lalu rompes seluruh daunnya untuk mengurangi terjadinya penguapan yang dapat menyebabkan entres kehilangan air sehingga menjadi keriput dan layu. Jika ini terjadi tingkat keberhasilan okulasi atau penyambungan akan berkurang.

Satukan entres dengan mengikatnya menggunakan karet gelang. Jumlah setiap ikatan 10-30 buah, sesuai dengan diameternya, kemudian perciki air agar kondisinya tetap segar

Bungkus ikatan entres dengan beberapa lapis tisu, kertas koran atau moss yang telah dibasahi air, kemudian bungkus dengan kantong plastik atau kantong kresek untuk menjaga agar lapisan tisu, kertas koran atau moss tetap lembab. Dengan perlakukan ini kesegaran entres dapat terjamin selama 2 x 24 jam.

Jika lokasi pengambilan entres sangat jauh, sebaiknya bungkusan entres dilapisi dengan pelepah pisang. Pelepah pisang mengandung banyak air dan rongga-rongga udara sehingga dapat menghambat masuknya panas dari luar ke bagian dalam entres. Jika diinapkan, letakkan entres di dalam ruang ber-AC tetapi jangan menyimpannya di dalam lemari pendingin karena dapat menyebabkan mata tunas entres mati. Kemudian entres dimasukkan ke dalam koper atau tas pakaian dan diletakkan di bagian paling atas agar tidak rusak atau patah tertindih pakaian dan barang-barang berat lainnya.

Posisi entres harus direbahkan agar cairan di dalamnya tidak turun karena bisa menyebabkan kulit batang entres mengerut sehingga sulit dikelupas. Saat pengangkutan, koper atau tas pakaian tempat menyimpan entres tidakn boleh diletakkan di dekat mesin atau dashboard karena bisa menyebabkan entres mati kekeringan akibat panas.

Perlu diperhatikan, jangan menyiram atau mencuci entres karena dapat mengundang bakteri patogen masuk ke dalam jaringan kayu sehingga menyebabkan entres membusuk. Jika terpaksa harus dicuci karena kotor atau terkena air hujan, sebaiknya entres dikeringanginkan terlebih dahulu sebelum dikemas.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Cangkok

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Cangkok

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN CANGKOK

Keunggulan cangkok adalah mudah dilakukan dan tingkat keberhasilannya tinggi. Selain itu, tanaman yang dihasilkan dapat mewarisi 100% sifat pohon induknya. Namun, tanaman hasil cangkok memiliki kelemahan, yaitu percabangannya tidak lebat dan tidak kompak, serta produktivitas buahnya terbatas. Selain itu, tanaman hasil cangkok tidak memiliki sistem perakaran yang kuat karena tidak memiliki akar tunggang, dan serabut-serabut akarnya juga tidak rimbun. Akibatnya tanaman mudah roboh saat tertiup angin kencang, dan tidak kuat menghadapi kekeringan pada musim kemarau.

Cangkok sangat cocok dilakukan pada tanaman buah-buahan yang batangnya berkayu seperti mangga, jeruk, jambu biji, jambu air, belimbing manis, lengkeng serta tanaman hias seperti bugenvil, mawar, dan kemuning. Sementara itu, dengan cara yang berbeda, beberapa tanaman tidak berkayu seperti salak, pepaya dan beberapa jenis tanaman hias seperti dieffenbachia dan aglonema juga dapat diperbanyak dengan cangkok.

Mencangkok Tanaman Berkayu

Pohon induk yang dicangkok harus cukup umur, kuat, bercabang banyak, serta tidak terserang hama dan penyakit. Idealnya, pohon induk sudah berbuah sedikitnya tiga kali agar kualitas buah dapat diketahui dengan pasti. Pohon induk yang sedang sakit, sebaiknya jangan dicangkok karena akan mati setelah cabang cangkokan dipotong.

Media yang digunakan untuk mencangkok antara lain moss (akar pakis Asplenium nidus), serbuk serabut kelapa (coco peat), tanah serasah pohon bambu. Selain itu, bisa juga digunakan campuran tanah dan kompos atau pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. penggunaan moss lebih dianjurkan karena bobotnya ringan dan mudah ditembus oleh akar cangkokan, dan mampu menyerap serta menyimpan air sehingga dapat meningkatkan keberhasilan cangkokan. Pada cangkokan tambahkan pupuk NPK 15:15:15 atau 16:16:16 sebanyak lima gram/kg media. Tujuannya mempercepat pertumbuhan akar cangkokan dan menjaga kesehatan cabang yang dicangkok. Sebelum digunakan, pupuk dilumatkan terlebih dahulu sampai halus, lalu campurkan secara merata dengan media.

Selain pupuk NPK, bisa juga digunakan pupuk daun yang memiliki kandungan P tinggi. Jenisnya antara lain BASF Foliar B, Fudatan, Gandapan Reginae, Gandasil, Growmore 10-55-10, Hyponex Biru, Hyponex Hijau, dan Shell Foliar-B. Pemberiannya disesuaikan dengan jenis media cangkok yang digunakan. Untuk media berupa tanah, campurkan sebanyak 3-5 gram/kg media. Sementara itu, jika media yang digunakan berupa moss, pemberiannya dilakukan dengan cara merendamnya selama 1-2 jam di dalam larutan pupuk sebanyak 3-5 gram/liter air.

Pembungkus media cangkok antara lain ijuk, sabut kelapa, pot plastik, potongan botol bekas kemasan air mineral, gelas bekas kemasan air mineral atau tabung bambu. Namun, pembungkus yang terbaik adalah plastik bening karena dapat menahan penguapan air di dalam media sehingga kelembabannya tetap tinggi. Keadaan ini membuat akar semakin cepat tumbuh. Selain itu, dengan menggunakan plastik bening, pertumbuhan akar juga gampang dikontrol setiap saat.

Semua percabangan pohon induk dapat dicangkok, asalkan rajin mengeluarkan buah. Namun untuk efisiensi, cukup cabang dan ranting berukuran kecil yang dicangkok agar dari satu pohon induk dapat diperoleh belasan atau puluhan bibit cangkokan. Selain itu, bentuk tajuk pohon induk tetap terjaga jika cabang atau ranting kecil saja yang dicangkok.

Pilih cabang atau ranting yang memiliki panjang 20-30 cm. sosoknya tegap, mulus, dan sehat dengan warna kulit coklat muda atau hijau kecoklatan tergantung pada jenis tanamannnya. Perlu diperhatikan, jangan mencangkok cabang yang berwarna kehitaman dan berkerak karena lambat menumbuhkan akar. Selain itu, umur cabang yang dicangkok tidak boleh terlalu tua atau terlalu muda karena cabang seperti ini hanya memiliki sedikit persediaan makanan sehingga menghambat tumbuhnya akar.

Berikut ini langkah-langkah mencangkok:

1. Sayat cabang atau ranting yang hendak dicangkok dengan menggunakan pisau yang tajam. Bidang sayatan melingkar selebar 2-3 kali diameter cabang. Penyayatan dilakukan tepat dibawah kuncup daun karena disinilah tempat berkumpulnya zat pembentuk akar (rizokalin).
2. Kupas kulit batang di bidang sayatan sampai terlihat kambiumnya yang berlendir. Buang kambium ini dengan cara dikerok menggunakan mata pisau. Lakukan pengerokan dengan hati-hati agar tidak melukai jaringan kayunya. Perlu diperhatikan, bidang sayatan tidak boleh langsung dibungkus media karena dapat memicu tumbuhnya jamur atau bakteri. Oleh karena itu, biarkan bidang sayatan selama 2-7 hari sampai mengering dan tidak ada lagi getah yang keluar. Setelah mengering, olesi dengan hormon penumbuh akar seperti Rootone F. Caranya Rootone F diberi sedikit air dan diaduk sampai menjadi pasta. Lalu oleskan merata, terutama di kulit bagian atas sayatan.
3. Membungkus Bidang Cangkokan. Membungkus bidang sayatan berbeda-beda tergantung pada media dan pembungkus yang digunakan. Jika media yang digunakan adalah moss, serbuk sabut kelapa atau campuran tanah dan kompos, yang terlebih dahulu dilakukan adalah melingkarkan lembaran plastik ke bidang sayatan, lalu mengikat bagian bawahnya sampai membentuk kantong. Posisi ikatan di bagian bawah 5-6 cm di bawah bidang sayatan. Setelah itu, media yang telah dibasahi air diisikan ke dalam plastik sampai memenuhi sekeliling bidang sayatan. Kemudian plastik dirapikan, lalu diikat di bagian tengah dan atasnya. Sementara itu, jika media yang digunakan berupa tanah dan pembungkusnya adalah kantong plastik, media cangkok dimasukkan terlebih dahulu sampai penuh lalu ikat bagian atas kantong sampai terbentuk bongkahan media. Setelah itu, bongkahan media dibelah menjadi dua dan ditangkupkan ke bidang sayatan lalu disatukan dan diikat erat agar tidak lepas.
4. Merawat Cangkokan. Cangkokan cukup disiram satu minggu sekali agar medianya tetap lembab. Penyiraman dilakukan dengan menyuntikkan air ke dalam media atau meneteskannya melalui bagian atas pembungkus. Jangan menyiram terlalu banyak karena media yang terlalu basah membuat calon akar yang tumbuh membusuk sehingga menyebabkan kegagalan cangkokan. Biasanya akar cangkokan baru tumbuh 1-3 bulan setelah cangkok, tergantung jenis tanamannya. Tanaman yang bergetah seperti nangka dan sawo lebih lama pertumbuhan akarnya, dibandingkan dengan tanaman yang tidak bergetah.
5. Memotong Cangkokan. Batang cangkokan dapat dipotong saat akar cangkokan sudah tumbuh memenuhi media dan daun di bawah cangkokan terlihat segar. Pemotongan dilakukan tepat dibawah pembungkus. Jika pemotongannya terlalu panjang saat ditanam cabang akan berada di bawah bidang cangkokan sehingga dapat terserang rayap dan menyebabkan kematian. Selain itu, sisa cabang induk di bawah bidang cangkokan masih dapat menumbuhkan beberapa cabang baru.

Setelah dipotong, sebagian daun cabang cangkokan dibuang untuk mengurangi penguapan yang berlebihan. Caranya dengan menggunting 1/2 – 2/3 helai daun dari seluruh daun yang ada. Ke,m bibit cangkokan disapih selama 4-6 bulan di dalam polibag. Selama itu, cangkokan harus disiram setiap hari 1-2 kali, tergantung pada cuaca. Jika cuaca panas, penyiraman dilakukan dua kali. Sementara itu, jika cuaca mendung penyiraman cukup dilakukan sekali saja.

Satu atau dua bulan sekali, berikan NPK dengan dosis satu sendok teh per tanaman agar akarnya semakin cepat besar. Penyiangan juga perlu dilakukan jika ada rumput atau tanaman liar tumbuh di dalam polibag. Setelah nampak segar dan pertumbuhannya sehat, cangkokan dapat dipindahkan ke media pembesaran.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Setek Mata Tunas

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif :

Setek Mata Tunas

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas.

Perbanyakan dengan setek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan dan tehnik yang rumit. Keunggulan tehnik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan setek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini. Misalnya anggur, kedondong, sukun, jambu air, markisa, alpukat, dan beberapa jenis jeruk serta tanaman hias seperti aglonema, dieffenbachia dan mawar.

Sama seperti tanaman hasil perbanyakan cangkok, tanaman hasil perbanyakan setek juga tidak memiliki akar tunggang sehingga mudah roboh saat tertiup angin kencang. Oleh karena itu, tanaman hasil perbanyakan setek hanya dapat ditanam di lokasi yang permukaan air tanahnya dangkal. Berdasarkan asal bagian tanaman yang digunakan, ada beberapa macam setek. Yaitu setek batang, akar, tunas dan daun.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK MATA TUNAS

Setek mata tunas biasanya dilakukan untuk memperbanyak nanas, anggur, dan tanaman hias seperti dieffenbachia serta aglonema. Batang untuk setek mata tunas diambil dari batang tanaman induk yang sehat dan subur, lalu dipotong-potong sepanjang 2-4 cm. Setiap potongan batang harus memiliki satu mata tunas yang bentuknya besar dan bulat. Kemudian, pangkal dan ujung setek dipotong miring dengan sudut kemiringan 45 0, lalu oleskan Rootone-F untuk merangsang tumbuhnya akar. Cara lain untuk menumbuhkan akar adalah dengan merendam setek di dalam larutan Atonik dengan konsentrasi 1-2 cc per liter air.

Setek disemai dalam polibag atau kotak kayu berisi media berupa campuran pasir dan kompos dengan perbandingan 1:1. Caranya dengan meletakkan setek pada permukaan media, lalu ditutup dengan lapisan pasir. Namun, posisi mata tunas harus tetap berada di permukaan media. Jika mata tunas tertutup media, setek akan membusuk dan tidak menumbuhkan akar dan tunas baru. Siram media sampai basah, lalu tutup dengan plastik bening atau kaca tembus cahaya.

Letakkan wadah persemaian di tempat yang sejuk dan bersuhu tidak lebih dari 250C. Dalam waktu 1-2 bulan, mata tunas sudah memunculkan tunas dan akar. Tanaman baru dapat dipindahkan ke polibag pembesaran setelah berumur 2-4 minggu saat perakarannya sudah cukup lebat dan daunnya terbuka sempurna.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Setek Daun

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif :

Setek Daun

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas.

Perbanyakan dengan setek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan dan tehnik yang rumit. Keunggulan tehnik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan setek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini. Misalnya anggur, kedondong, sukun, jambu air, markisa, alpukat, dan beberapa jenis jeruk serta tanaman hias seperti aglonema, dieffenbachia dan mawar.

Sama seperti tanaman hasil perbanyakan cangkok, tanaman hasil perbanyakan setek juga tidak memiliki akar tunggang sehingga mudah roboh saat tertiup angin kencang. Oleh karena itu, tanaman hasil perbanyakan setek hanya dapat ditanam di lokasi yang permukaan air tanahnya dangkal. Berdasarkan asal bagian tanaman yang digunakan, ada beberapa macam setek. Yaitu setek batang, akar, tunas dan daun.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK DAUN

Setek daun dilakukan untuk memperbanyak tanaman hias yang berbatang sukulen, berdaun tebal, dan memiliki kandungan air tinggi. Contohnya, Begonia, Sansevieria, Violces, Wijayakusuma, Zamea curcas, dan sosor bebek. Bahan setek dapat berupa daun utuh, atau hanya berupa potongan-potongan daun, tergantung pada jenis tanamannya. Untuk violces (Saintpaulia sp) dan Zamea curcas digunakan daun lengkap. Untuk Begonia sp (Begonia) digunakan daun lengkap atau hanya berupa irisan-irisan daun. Sementara itu, untuk lidah mertua (Sansevieria sp) yang digunakan adalah potongan-potongan daun sepanjang 10 cm. Daun untuk setek sebaiknya yang berwarna hijau segar dan berumur cukup tua. Daun seperti ini memiliki karbohidrat dan nitrogen cukup tinggi sehingga cukup untuk menumbuhkan akar.

Sebelum disemai, setek diberi hormon tumbuh untuk mempercepat pertumbuhan akar. Kemudian disemai ke dalam media bersama campuran tanah kebun, kompos, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:2:2:2, lalu disiram secukupnya. Tutup persemaian dengan plastik transparan untuk menjaga kelembabannya tetap tinggi. Biasanya dalam waktu 2-3 minggu setek sudah memunculkan tunas baru. Setelah perakarannya cukup banyak, setek dapat dipindahkan ke polibag.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Setek Akar

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif :

Setek Akar

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas.

Perbanyakan dengan setek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan dan tehnik yang rumit. Keunggulan tehnik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan setek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini. Misalnya anggur, kedondong, sukun, jambu air, markisa, alpukat, dan beberapa jenis jeruk serta tanaman hias seperti aglonema, dieffenbachia dan mawar.

Sama seperti tanaman hasil perbanyakan cangkok, tanaman hasil perbanyakan setek juga tidak memiliki akar tunggang sehingga mudah roboh saat tertiup angin kencang. Oleh karena itu, tanaman hasil perbanyakan setek hanya dapat ditanam di lokasi yang permukaan air tanahnya dangkal. Berdasarkan asal bagian tanaman yang digunakan, ada beberapa macam setek. Yaitu setek batang, akar, tunas dan daun.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK AKAR

Walaupun tidak memiliki mata tunas, akar dapat memunculkan tunas di dinding atau dibekas potongannya yang telah muncul kalus. Tanaman yang dapat diperbanyak dengan cara ini cukup banyak, misalnya tanaman berbentuk pohon, semak, tanaman merambat, tanaman tahunan, sampai tanaman dataran tinggi. Beberapa diantaranya adalah cemara, jambu biji, jeruk keprok dan sukun.

Bahan setek akar harus berupa akar lateral yaitu akar yang tumbuh ke arah samping sejajar dh permukaan tanah. Sebaiknya pilih akar muda yang berukuran 1 cm atau sebesar pensil karena lebih cepat memunculkan akar dibandingkan dengan akar tua. Untuk tanaman besar berbentuk semak atau pohon, pengambilan akar dilakukan dengan melubangi tanah sampai akar-akarnya kelihatan. Kemudian ambil akar yang diperlukan, lalu lubang ditutup kembali dengan tanah. Sementara itu, untuk tanaman kecil, pengambilan akar dilakukan dengan mencabut tanaman tersebut, lalu memotong akar yang diperlukan. Setelah itu, tanaman ditanam kembali.

Akar yang telah diambil kemudian dipotong-potong sepanjang 5-10 cm menggunakan silet atau pisau tajam agar menghasilkan potongan yang bersih dan rata. Bagian akar yang dekat dengan pangkal batang dipotong secara serong, sementara itu bagian ujungnya dipotong datar, lalu ditaburi dengan fungisida untuk mencegah serangan jamur.

Setek akar disemai dalam media pasir setebal 7-10 cm. Posisinya dapat tegak atau dibaringkan. Jika disemai tegak, bagian pangkal dibenamkan ke dalam media sedalam 3-5 cm atau setengah dari panjang setek, dengan jarak antar setek 4-5 cm. Sementara itu, jika disemai dengan cara dibaringkan, setek cukup disusun dalam barisan berjarak 5 cm, lalu ditutup pasir setebal 2-3 cm.

Media semai harus selalu lembab agar setek menghasilkan tunas dan akar yang banyak. Oleh karena itu, media disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Persemaian juga harus disungkup dengan plastik agar kelembabannya tetap tinggi sehingga perumbuhan akar dan tunas menjadi lebih cepat. Setek dapat dipindahkan ke polibag pembesaran jika akarnya telah tumbuh banyak.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Rundukan

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Rundukan

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN RUNDUKAN

Rundukan sering disebut cangkok tanah atau cangkok runduk karena dilakukan dengan merundukkan cabang pohon induk sampai menyentuh tanah, lalu menutupnya dengan media. Pada dasarnya, cara rundukan sama dengan mencangkok, yaitu membungkus bagian tanaman dengan media untuk menumbuhkan akar. Namun, cara rundukan tidak memerlukan pembungkus. Perbanyakan ini memiliki tingkat keberhasilan sampai 100%, karena cabang yang diperbanyak tetap mendapatkan asupan makanan dari pohon induknya.

Tanaman yang biasa diperbanyak dengan rundukan adalah tanaman yang bercabang panjang dan lentur seperti murbai, stroberi, apel, mawar dan azalea. Selain itu, juga tanaman menjalar dan merambat seperti labu kuning dan labu air. Secara alami, tanaman-tanaman tersebut dapat melakukan perbanyakan sendiri saat bagian tanamannya terkulai menyentuh tanah. Lama-kelamaan dari bagian tersebut akan tumbuh akar dan tunas. Jika dipotong dan ditanam lagi dapat tumbuh menjadi tanaman baru yang produktif.

Ada beberapa tipe perbanyakan dengan cara rundukan:

1. Tehnik Tip Layerage

Tehnik Tip Layerage dilakukan dengan menanam ke dalam tanah seluruh bagian ujung cabang tanaman. Tehnik ini biasa dilakukan oleh pekebun di luar negeri untuk memperbanyak tanaman stroberi dan murbai. Caranya, buat lubang sedalam 2-3 cm dibawah cabang yang dirundukkan. Kemudian cabang ditarik ke bawah sampai bagian ujungnya menjangkau dasar lubang, lalu tutup dengan tanah. Boasanya dalam waktu 2-3 bulan tumbuh akar di sekitar ujung cabang dan tunas baru muncul ke permukaan tanah. Tehnik ini sebaiknya dilakukan pada akhir musim kemarau agar sebelum musim hujan berakhir bibit sudah dapat dipisahkan dari pohon induknya untuk ditanam kembali dari satu cabang yang dirundukkan.

2. Tehnik Common Layerage

Tehnik common layerage dilakukan dengan menanam bagian ujung cabang, tetapi pucuknya dibiarkan muncul ke permukaan tanah. Tehnik ini dilakukan untuk memperbanyak tanaman apel dan mawar pagar. Caranya, buat lubang sedalam 10-20 cm di bawah cabang yang dirundukkan. Setelah itu, cabang ditarik ke bawah sampai bagian ujungnya menjangkau dasar lubang. Agar cabang tidak kembali ke posisi semula, tahan dengan sebilah bambu atau kawat yang dilengkungkan. Sebelum ditutup tanah, bagian cabang yang ditanam sebaiknya dilukai terlebih dahulu untuk merangsang titik-titik tumbuh akar. Tehnik ini hanya menghasilkan satu tanaman baru dari satu cabang yang dirundukkan.

3. Tehnik Trench Layerage

Tehnik trench layerage dilakukan dengan menanam cabang tanaman ke dalam lubang yang dibuat memanjang seperti parit (trench). Tehnik ini sering dilakukan untuk memperbanyak batang bawah apel, azalea, serta mawar. Caranya, buat lubang sedalam 5-12,5 cm di bawah cabang yang dirundukkan. Kemudian cabang dirundukkan memanjang memanjang di dasar lubang. Agar cabang tidak muncul ke atas permukaan tanah, bagian ujung dan pangkal cabang yang menyentuh tanah ditahan menggunakan sebilah bambu atau kawat yang dibengkokkan. Sementara itu, pucuk cabang dengan beberapa lembar daunnya dibiarkan tetap diatas permukaan tanah, lalu cabang ditutup dengan tanah. Biasanya dari setiap ruas cabang yang ditanam akan muncul beberapa tunas baru. Setelah perakarannya tumbuh banyak, ruas-ruas cabang yang telah bertunas dipotong-potong dan ditanam kembali. Karena menghasilkan banyak tunas yang berbaris di sepanjang lubang maka tehnik ini sering juga disebut tehnik continuous layerage.

4. Tehnik Compound Layerage

Tehnik ini mirip dengan trench layerage, tetapi bagian cabang yang ditanam tidak seluruhnya, hanya di beberapa tempat di satu cabang yang ditutup dengan tanah sehingga cabang tanaman berselang-seling berada di dalam dan diatas tanah. Di bagian cabang yang muncul diatas tanah akan tumbuh tunas-tunas baru, sementara itu, akar tumbuh di bagian cabang yang tertutup tanah. Di luar negeri, tanaman anggur banyak diperbanyak dengan cara ini. Cabang rundukan dipotong jika perakarannya telah cukup banyak dan tunas-tunasnya telah tumbuh subur. Kemudian bibit dipotong di dalam pot, polibag atau dapat langsung ditanam di kebun secara individual. Tehnik ini menghasilkan dua atau lebih tanaman baru dari satu cabang yang dirundukkan.

Untuk semua tehnik yang digunakan, tanah tempat menanam rundukan cabang harus subur dan gembur agar pertumbuhan akar dan tunas semakin cepat. Oleh karena itu, media untuk menutup cabang berupa campuran tanah topsoi dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1:1. selain itu, tambahkan zat perangsang tumbuh (ZPT) dan NPK sebanyak 1 sendok makan/kg media.

Jika ZPT yang digunakan berbentuk bubuk seperti Rootone-F, beri sedikit air terlebih dahulu lalu diaduk sampai menjadi pasta. Setelah itu, oleskan ke bagian cabang yang dirundukkan. Jika ZPT yang digunakan berbentuk cairan seperti Atonik atau Florita, cara pemberiannya adalah dengan menyemprotkannya secara rutin seminggu sekali ke bagian tanah yang menutupi cabang dengan dosis 1-2 cc/liter air. Lakukan penyiraman 1-2 hari sekali agar media rundukan tetap terjaga kelembabannya.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.