Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu pada PTT Padi

4 01 2009

Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu pada PTT Padi

Hama dan penyakit  merupakan cekaman biotis yang dapat mengurangi hasil dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil panen yang optimum dalam budidaya padi, perlu dilakukan usaha pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor pengendalian ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alami dan tidak menimbukan kerugian besar. PHT merupakan paduan beberapa cara pengendalian diantaranya melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat ditetapkan. Hama dan penyakit utama pada lahan sawah irigasi berturut –turut yaitu tikus, wereng coklat, penggerek batang, tungro, Hawar Daun Bakteri (HDB), dan keong mas.

Tikus Sawah

Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) didasarkan pada pemahaman ekologi jenis tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian diprioritaskan awal tanam (pengendalian dini) untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadia generatif padi. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi secara luas (hamparan).

Langkah langkah pengendalian:

  1. Menerapkan pola tanam yang teratur dan waktu tanam yang serempak (tidak lebih dari 2 minggu)
  2. Periode bera/pengolahan tanah. Dilakukan gropyokan massal atau berburu tikus oleh semua anggota kelompok tani. Kegiatan tersebut  dapat berupa pembongkaran sarang tikus pada habitat utama seperti tanggul irigasi, jalan, rel kerata api, lahan kosong dan lainnya. Apabila populasi tikus sangat tinggi dapat digunakan rodentisida, baik jenis akut atau antikoagulan sesuai anjuran.
  3. Periode persemaian. Pada daerah endemik tikus, persemaian padi agar dilindungi pagar pelastik dan dipasang dua bubu perangkap untuk persemaian berukuran  10 m x 10 m. Pada musim kemarau disarankan dipasang bubu perangkap (Trap Barrier System = TBS) ukuran 15 m x 15 m untuk setiap 15 ha ditetapkan di dekat habitat utama tikus dan dilakukan pengambilan tangkapan tikus setiap hari sampai panen.
  4. Periode padi  vegetatif. Sanitasi gulma pada habitat tikus, baik yang ada di hamparan sawah maupun di sekitar sawah agar tidak digunakan sebagai sarang tikus. Dilakukan pengendalian secara mekanis, rodentisida bila populasi masih tinggi, pasang (Linier  Trap Barrier System = LTBS) di dekat habitat utama dan dipindahkan setiap 5 hari, serta lakukan fumigasi sarang tikus.
  5. Periode padi generatif.  Lakukan fumigasi asap belerang pada setiap sarang aktif tikus, sanitasi gulma pada habitat utama dan pasang LTBS  di dekat habitat utama secara periodik.

Wereng  Coklat

  1. Gunakan varietas tahan wereng coklat berdasarkan biotipe di wilayah sebagai acuan lihat di deskripsi varietas.
  2. Gunakan berbagai cara pengendalian mulai dari penyiapan lahan, tanam teratur (jajar legowo), pengairan  intermitten, takaran pupuk sesuai BWD. Monitor pertanaman paling lambat 2 minggu sekali, untuk mengetahui tingkat predator dan hamanya supaya tetap seimbang.
  3. Bila perkembangan hama wereng terus meningkat  (hubungan musuh alami dan hama tidak seimbang):

Bila populasi hama di bawah ambang ekonomi gunakan insektisida botani atau jamur ento-mopatogenik (Metarhizium annisopliae atau Beauveria bassiana)

Bila populasi hama di atas ambang ekonomi gunakan insektisida kimiawi yang direkomendasi.

Penggerek Batang Padi

  1. Ada 6 spesies penggerek batang yang menjadi hama padi, 4 diantaranya merupakan spesies yang paling banyak dijumpai dan dominasinya tergantung pada daerah penyebarannya.
  2. Hama ini harus diamati intensif sejak persemaian sampai dengan panen. Kalau populasi tinggi dapat diberantas dengan insektisida butiran (karbofuron, fipronil) dan insektisida cairan (dimehipo, bensultap, amitraz dan fipronil).
  3. Insektisida butiran diaplikasi bila genangan air dangkal dan insektisida cair disaat genangan air tinggi. Insektisida cair diaplikasikan pada fase generatif apabila populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada perangkap feromon, atau 300 ekor/minggu pada perangkap lampu.
  4. Penangkapan ngengat jantan dengan memasang perangkap feromon 9-16 perangkap setiap hektar  atau mengamati spesies dominan..
  5. Saat panen, tunggul jerami dipotong rendah supaya hidup larvanya terganggu.

Keong mas

Pengendalian yang paling utama ialah mencegah introduksi keong mas pada areal baru. Apabila keong masuk ke dalam areal sawah baru, akan berkembang cepat terutama pada lahan yang selalu tergenang dan akan  sukar dikendalikan. Pengendalian keong mas, sebaiknya dilakukan dengan berbagai cara pengendalian secara terpadu (PHT) dan berkesinambungan. Walaupun tanaman sudah besar (lebih dari 30 hari), pengendalian harus tetap dilaksanakan. Hal tersebut untuk mencegah serangan pertanaman musim berikutnya dan juga di lahan sawah sekitarnya. PHT pada keong mas dilakukan sepanjang pertanaman dengan rincian sbb:

Pra-tanam

1. Mengambil keong mas dan memusnahkan sebagai cara mekanis.

Persemaian

  1. Mengambil keong mas dan memusnahkan
  2. Menyebar benih lebih banyak untuk sulaman
  3. Membersihkan saluran air dari  tanaman air seperti  kangkung

Stadia vegetatif

  1. Pemupukan P dan K dilakukan sebelum tanam
  2. Menanam bibit yang agak tua (lebih dari 21 hari ) dan jumlah bibit lebih banyak
  3. Mengeringkan sawah sampai 7 hari setelah tanam
  4. Tidak aplikasi herbisida sampai 7 hari setelah tanam
  5. Mengambil keong mas dan memusnahkan
  6. Mengumpan dengan  menggunakan daun talas dan pepaya
  7. Memasang ajir agar siput bertelur  pada ajir dan telurnya dimusnahkan
  8. Mengambil dan memusnahkan telur siput pada tanaman
  9. Aplikasi pestisida anorganik atau nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20 sampai 50 kg/ha yang diaplikasikan sebelum tanam, sebaiknya dilakukan pada caren agar bahan pestisida dapat dihemat.

Stadia generatif  dan setelah panen

  1. Mengambil keong mas dan memusnahkan
  2. Menggembalakan itik setelah padi dipanen

Penyakit  tungro

  1. 1 Usahakan tanam serentak minimal 20 ha
  2. Gunakan varietas tahan virus  tungro atau tahan serangga penular wereng  hijau
  3. Buat persemaian setelah lahan dibersihkan. Buang tanaman padi yang terinfeksi agar tidak menjadi  sumber virus.
  4. Tanam Jajar Legowo
  5. Kendalikan serangga wereng hijau penular virus dengan insektisida kimiawi yang direkomendasikan bila saat tanaman umur kurang dari sebulan setelah tanam ditemukan 1 tanaman terserang dari 1.000 rumpun tanaman.
  6. Sawah jangan dikeringkan.

Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)

  1. 1 Gunakan pupuk  N  tidak berlebih tetapi sesuai kebutuhan tanaman
  2. Gunakan varietas tahan
  3. Lakukan rotasi tanam.

(Taken from: Petunjuk Teknis Lapang PTT Padi Sawah Irigasi Kumpulan Informasi Teknologi Pertanian Tepat Guna Badan Litbang Pertanian 2007) (BNH)

Hak Cipta © 2008 – BPTP Nusa Tenggara Barat,
Jln.
Raya Peninjauan – Narmada
P.O. Box:1017 Mataram 83010
Telp. (0370) 671312 Fax. (0370) 671620 e-mail: bptp-ntb@litbang.deptan.go.id; litram@mataram.wasantara.net.id
SMS Center : 0818540033

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: