Penggunaan Pestisida yang Baik dan Benar Dengan Residu Minimum

7 01 2009

Penggunaan Pestisida yang Baik dan Benar Dengan Residu Minimum

BAB I PENDAHULUAN

Telah disadari bahwa pada umumnya pestisida merupakan bahan berbahaya yang dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Namun demikian, pestisida juga dapat memberikan manfaat, sehingga pestisida banyak digunakan dalam pembangunan di berbagai sektor, termasuk pertanian. Memperhatikan manfaat dan dampak negatifnya, maka pestisida harus dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya.

Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan pestisida banyak dilakukan secara luas oleh masyarakat, karena pestisida mempunyai kelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu antara lain:

  1. dapat diaplikasikan secara mudah;
  2. dapat diaplikasikan hampir di setiap tempat dan waktu;
  3. hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat;
  4. dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat; dan
  5. mudah diperoleh, dapat dijumpai di kios-kios pedesaan sampai pasar swalayan di kota besar.

Di samping memiliki kelebihan tersebut di atas, pestisida harus diwaspadai karena dapat memberikan dampak negatif, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu antara lain:

  1. keracunan dan kematian pada manusia;
  2. keracunan dan kematian pada ternak dan hewan piaraan;
  3. keracunan dan kematian pada satwa liar;
  4. keracunan dan kematian pada ikan dan biota air lainnya;
  5. keracunan dan kematian pada biota tanah;
  6. keracunan dan kematian pada tanaman;
  7. keracunan dan kematian pada musuh alami OPT;
  8. terjadinya resistensi, resurjensi, dan perubahan status OPT;
  9. pencemaran lingkungan hidup;
  10. residu pestisida yang berdampak negatif terhadap konsumen; dan
  11. terhambatnya perdagangan hasil pertanian.

Di antara berbagai dampak negatif penggunaan pestisida tersebut di atas, masalah residu pestisida pada hasil pertanian dewasa ini mendapat perhatian yang makin serius bagi kepentingan nasional maupun internasional. Hal tersebut disebabkan oleh antara lain:

  1. Makin meningkatnya kesadaran individu (konsumen) tentang pengaruh negatif residu pestisida pada hasil pertanian terhadap kesehatan manusia. Kesadaran ini telah muncul di negara-negara maju dan meluas ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Konsumen akan memilih hasil pertanian yang aman konsumsi (dalam hal ini yang bebas pestisida) atau kalau mengandung residu pestisida, maka kadarnya masih di bawah batas toleransi.
  2. Makin ketatnya persyaratan keamanan pangan, yang berakibat pada meningkatnya tuntutan terhadap mutu pangan (kualitas produk).
  3. Terjadinya hambatan perdagangan hasil pertanian terutama dalam ekspor. Masalah residu pestisida sudah menjadi persyaratan internasional yang ditetapkan oleh Codex Alimentarius Commision (CAC), yaitu komisi internasional yang dibentuk oleh FAO dan WHO yang khusus menangani masalah keamanan pangan.

CAC telah menetapkan Maximum Residue Limits (MRLs) pestisida dan makin banyak negara yang menerapkannya. Indonesia juga telah mengatur Batas Maksimum Residu (BMR) pestisida pada hasil pertanian berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian nomor : 881/MENKES/SKB/VIII/1996. tanggal 22 Agustus 1996.
711/Kpts/TP.270/8/96

Dampak dari pengaturan BMR pestisida di luar negeri adalah banyaknya ekspor hasil pertanian yang ditolak di luar negeri karena mengandung residu pestisida melalui batas yang telah ditentukan. Memperhatikan hal-hal yang tersebut di atas, maka residu pestisida pada hasil pertanian harus dikendalikan, agar tidak ada atau kalau ada maka kandungan residu tersebut tidak melebihi batas yang ditetapkan. Dalam pengendalian residu pestisida ini, yang paling menentukan adalah pengendalian terhadap penggunaan pestisida dalam perlindungan tanaman di lapangan (on farm). Walaupun pestisida juga digunakan pada pascapanen (pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, dan sebagainya), tetapi penggunaan pestisida yang terbesar terjadi di lapangan sebelum panen.

Karena pengaruh penggunaan pestisida di lapangan terhadap timbulnya residu pestisida pada hasil pertanian sangat besar, maka perlu dilakukan langkah-langkah konkrit untuk mengendalikan penggunaan pestisida di lapangan agar residunya pada saat dipanen minimum atau di bawah batas ambang yang telah ditetapkan.

BAB II TUJUAN

Pedoman ini disusun dengan tujuan sebagai berikut:

  • Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemauan petugas pemerintah, petani, dan masyarakat pertanian lainnya tentang penggunaan pestisida secara baik dan benar;
  • Agar petani dapat menggunakan pestisida secara baik dan benar; sehingga dampak negatif pestisida, dalam hal ini masalah residu pestisida, dapat dihindari atau menjadi seminimum mungkin pada saat panen;
  • Agar hasil pertanian yang diperoleh aman dikonsumsi dan tidak mengalami hambatan dalam perdagangan.

BAB III LANGKAH OPERASIONAL PENGGUNAAN PESTISIDA

Sesuai dengan prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, yang telah dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman maupun Keputusan Menteri Pertanian Nomor 887/Kpts/OT.210/9/97 Tentang Pedoman Pengendalian OPT, penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT merupakan alternatif terakhir. Pengertian alternatif terakhir adalah apabila semua teknik/cara pengendalian yang lain (misalnya cara bercocok tanam, secara biologis, fisik, mekanis, genetik, dan karantina) dinilai tidak memadai.

Penggunaan pestisida sedapat mungkin dihindari. Namun demikian, apabila cara pengendalian lain tidak memadai sehingga pestisida terpaksa digunakan, maka penggunaannya harus secara baik dan benar. Dampak negatif yang mungkin timbul diusahakan sekecil mungkin, sedangkan manfaatnya diupayakan sebesar mungkin.

Untuk memperkecil dampak negatif penggunaan pestisida, dalam hal ini memperkecil residu pestisida pada hasil pertanian, dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pemilihan Pestisida

a. Memilih Pestisida yang Tepat Jenis

Agar penggunaannya efektif, jenis pestisida yang akan digunakan harus tepat, yaitu disesuaikan dengan OPT (hama, penyakit, dan gulma) sasaran yang menyerang tanaman.

Menurut OPT sasaran yang akan dikendalikan, pestisida dapat dikelompokkan antara lain menjadi:

  1. insekstisida (insecticide) : untuk mengendalikan insekta (serangga)
  2. fungisida (fungicide) : untuk mengendalikan fungus (cendawan/jamur)
  3. bakterisida (bactericide) : untuk mengendalikan bakteri
  4. herbisida (herbicide) : untuk mengendalikan herba (gulma atau tumbuhan pengganggu)
  5. nematisida (nematicide) : untuk mengendalikan nematoda
  6. pissisida (piscicide) : untuk mengendalikan ikan
  7. moluskisida (moluscicide) : untuk mengendalikan molusca
  8. akarisida (acaricide) : untuk mengendalikan akarina/tungau.
  9. dll.

Tiap kelompok pestisida tersebut pada umumnya mempunyai sifat tersendiri dan tidak efektif terhadap OPT dari golongan yang lain, misalnya insektisida tidak dapat mengendalikan cendawan atau gulma. Tetapi ada juga satu jenis pestisida yang digolongkan kedalam lebih dari satu kelompok, misalnya disamping sebagai insektisida juga sebagai nematisida, pissisida, dsb. Oleh karena itu, jenis pestisida yang dipilih harus sesuai dengan OPT-nya. Kalau OPT-nya adalah serangga maka pilihlah insektisida, kalau OPT-nya cendawan pilihlah fungisida dan seterusnya.

Setelah memilih kelompoknya, kemudian memilih jenis yang efektif untuk OPT sasaran yang ada. Walaupun sama sebagai insektisida tetapi tidak berarti efektif atau tingkatan keefektifannya sama terhadap semua serangga. Untuk mengetahui pestisidanya, termasuk kelompok apa dan efektif untuk OPT apa, dapat dibaca label pada kemasan pestisidanya.

Kesalahan dalam memilih jenis pestisida berakibat tidak efektifnya pestisida tersebut, misalnya OPT tidak terkendali dan tanaman tidak “sembuh”. Hal ini mendorong pengulangan aplikasi pestisida berkali-kali dalam jangka waktu pendek yang dampaknya antara lain residunya tinggi. Sebaliknya, apabila jenis yang dipilih benar dan efektif maka tidak diperlukan aplikasi ulangan lagi sehingga residunya rendah. Oleh karena itu, OPT yang menyerang harus diamati secara cermat sebelum memilih jenis pestisida yang tepat.

b. Memilih Pestisida yang Mudah Terurai (Tidak Persisten)

Suatu pestisida tertentu mempunyai sifat fisiko kimia yang berbeda dengan yang lainnya, walaupun kelompoknya sama. Ada jenis pestisida yang mudah teroksidasi, tereduksi, terhidrolisa dan mengalami reaksi lain sehingga akan rusak atau bahkan menjadi senyawa lain yang tidak berbahaya.

Berdasarkan sifat fisiko kimianya ada pestisida yang tidak mudah rusak di alam, sehingga tetap berada di alam dalam jangka waktu panjang (disebut persisten). Sebaliknya, ada pestisida yang mudah rusak/berubah menjadi senyawa lain di alam sehingga keberadaannya di alam hanya dalam waktu pendek (disebut non persisten). Untuk mengukur mudah tidaknya suatu pestisida rusak/terurai di alam, digunakan parameter waktu paruh (Decomposition Time-50 disingkat DT-50) atau senyawa tersebut terurai di alam (dalam hal ini, unsur alam yang sering digunakan adalah tanah, air, udara). DT-50 pestisida sangat beragam, dari jangka waktu jam sampai dengan jangka waktu tahun.

Decomposition Time-50 suatu jenis pestisida dapat berbeda dengan DT-50 pestisida lainnya, tetapi secara umum DT-50 pestisida adalah sebagai berikut: kelompok organo klor lebih lama daripada organo fosfat, lebih lama daripada organo karbamat, lebih lama daripada piretroid sintetik. Makin besar angka DT-50, artinya pestisida makin sulit terurai, makin lama berada di alam. Sebaliknya, makin kecil angkanya, pestisida tersebut makin mudah terurai di alam, sehingga residunya akan cepat berkurang.

Untuk mengurangi residu pestisida, selain yang tepat jenis agar efektif, pestisida yang dipilih hendaknya yang mempunyai DT-50 kecil (mudah rusak di alam). Namun, informasi tentang DT-50 tidak mudah diperoleh karena tidak tercantum dalam label pestisida, sehingga perlu dicari ke sumber lainnya, misalnya petugas perlindungan tanaman pangan dan hortikultura atau pemilik produk.

2. Pengaturan Cara Aplikasi Pestisida

a. Waktu Aplikasi

Aplikasi pestisida seharusnya hanya dilakukan pada waktu populasi atau intensitas serangan OPT telah melampaui ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Jangan mengaplikasikan pestisida pada saat populasi atau intensitas serangan OPT masih di bawah ambang ekonomi, atau secara reguler tanpa memperhatikan populasi/intensitas serangan OPT, apalagi tidak ada serangan OPT. Hal ini dimaksudkan agar aplikasi pestisida hanya pada waktu yang diperlukan dan tidak berlebihan.

Selain mempertimbangkan ambang ekonomi, aplikasi pestisida perlu memperhatikan stadia peka sebagian besar populasi OPT terhadap pestisida. Aplikasi pestisida pada stadia peka akan lebih efektif walaupun dengan dosis rendah dan tidak perlu diulang dalam jangka waktu pendek. Contoh: aplikasi pestisida untuk mengendalikan ulat grayak sebaiknya dilakukan pada waktu larva berada pada instar 1–3, karena larva pada instar berikutnya (instar 4–6) relatif lebih tahan terhadap pestisida. Stadia yang relatif tahan pestisida pada umumnya adalah telur dan pupa.

b. Dosis Aplikasi

Dosis (liter atau kilogram pestisida per hektar tanaman) dan konsentrasi (mililiter atau gram pestisida per liter cairan semprot) yang digunakan adalah dosis dan konsentrasi minimum yang efektif terhadap OPT sasaran. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan pestisida tidak berlebihan dan residunya tidak tinggi. Di samping itu, penggunaan pestisida yang berlebihan dapat mempercepat terjadinya resistensi.

Informasi tentang dosis dan konsentrasi efektif yang dianjurkan dapat dibaca pada label masing-masing pestisida. Contoh: apabila dosis satu liter per hektar suatu pestisida cukup efektif untuk mengendalikan OPT A, maka pestisida tersebut tidak perlu diaplikasikan dengan dosis lebih daripada itu.

Dosis pestisida yang berlebihan tidak berpengaruh nyata terhadap efektivitas, tetapi dampak negatif yang ditimbulkannya dapat berbeda nyata; terutama residu pestisida, percepatan resistensi, pemborosan, dan pencemaran lingkungan hidup.

c. Sasaran Aplikasi

Perlu diupayakan semaksimal mungkin agar aplikasi pestisida diarahkan pada sasarannya yang tepat, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Tidak diaplikasikan pada bagian tanaman yang akan dikonsumsi. Apabila yang akan dikonsumsi adalah buahnya, maka aplikasi pestisida tidak diarahkan pada buah.
  • Aplikasikan pestisida pada bagian tanaman yang terserang atau ada populasi OPT-nya. Hal ini dimaksudkan agar pestisida terfokus pada bagian tanaman yang memerlukannya; sehingga efektif, efisien, dan tidak meninggalkan residu pada bagian tanaman yang tidak perlu diaplikasi. Contoh: apabila serangan OPT terjadi di pangkal batang, maka bagian yang diaplikasi pestisida cukup di pangkal batang saja, tidak seluruh bagian tanaman.

d. Jangka Waktu Sebelum Panen

Aplikasi pestisida yang terakhir diusahakan sejauh mungkin sebelum panen. Makin jauh dari waktu panen makin baik. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu hasil tanaman dipanen, sebagian besar pestisida sudah terurai, sehingga residunya hanya sedikit atau tidak ada. Jangan mengaplikasikan pestisida menjelang atau setelah panen, kecuali pada kondisi tertentu yang memang memerlukannya dan aplikasi pada kondisi tersebut tidak dapat dihindarkan.

e. Tidak Menggunakan Bahan Perekat (Sticker)

Bahan perekat (sticker) adalah bahan tambahan (ajuvan) yang dijual secara terpisah dari pestisida. Beberapa formulasi pestisida sudah mengandung bahan perekat, sedangkan yang lainnya tanpa bahan perekat. Banyak anggota masyarakat yang menambahkan bahan perekat ke dalam cairan semprot dengan maksud agar pestisidanya tidak mudah tercuci air hujan dan hilang dari tanaman karena tertiup angin.

Dampak dari penggunaan bahan perekat adalah pestisida lebih lama melekat pada tanaman, sehingga masa proteksinya lebih lama. Tentu saja residunya tidak berkurang pada saat dipanen. Oleh karena itu jangan menggunakan tambahan bahan perekat, kecuali keadaan lapangan menuntut dilakukannya penambahan bahan perekat; misalnya pada saat curah hujan sangat banyak.

f. Alat dan Teknik Aplikasi yang Tepat

Alat aplikasi antara lain penyemprot/sprayer (hand sprayer, power sprayer, mist blower) penghembus/ duster, dan pengabut-panas/fogger mempunyai kinerja dan spesifikasi tertentu sesuai dengan tujuan penggunaan yang dirancang oleh pembuatnya. Penerapan teknik aplikasi yang tepat memungkinkan berfungsinya alat tersebut secara optimal. Informasi tentang hal tersebut biasanya tercantum pada leaflet/brosur masing-masing.

Penggunaan alat dan teknik aplikasi yang tepat lebih menjamin efektivitas dan efisiensi. Apabila aplikasinya efektif, maka OPT terkendali. Untuk memperkecil residunya, aplikasi pestisida tidak perlu diulang-ulang dalam jangka waktu pendek.

g. Penggunaan Fumigan

Fumigan adalah pestisida yang mudah menguap; jenis fumigan tertentu dalam kondisi normal sudah berbentuk gas. Penggunaan fumigan dapat dikatakan hampir tidak meninggalkan residu, kecuali pestisida tertentu yang dapat terserap oleh bahan tertentu yang diaplikasi. Fumigan efektif untuk pengendalian OPT yang tersembunyi.

Fumigan akan mudah menguap dan hilang di tempat terbuka. Oleh karena itu fumigan tidak digunakan di lahan pertanian; tetapi diaplikasikan hanya di ruang tertutup dan umumnya untuk produk pasca panen. Kekurangan dari fumigan adalah cara aplikasinya yang memerlukan peralatan dan keahlian khusus; sehingga tidak setiap orang mampu melakukannya, tetapi hanya aplikator profesional atau bersertifikat yang diizinkan untuk menggunakannya.

BAB IV PENGUJIAN RESIDU PESTISIDA

Untuk mengetahui adanya residu pestisida sebagai salah satu dampak penggunaan pestisida dengan memperhatikan cara-cara yang telah diuraikan di depan, sebaiknya dilakukan pengujian kandungan residu pestisida pada hasil pertanian yang akan dikonsumsi atau diperdagangkan.

Pelaksanaan pengujian residu pestisida pada tahap-tahap pengambilan contoh, pewadahan, pengiriman, penyimpanan, dan analisis di laboratorium harus mengikuti Pedoman Pengujian Residu Pestisida pada Hasil Pertanian yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Dalam hal ini, Komisi Pestisida telah menetapkan pedoman dimaksud, yang diadopsi dari Codex Alimentarius Commission (CAC).

Dengan adanya data hasil pengujian residu pestisida, maka dapat diyakinkan apakah langkah-langkah yang telah dilakukan sudah benar-benar menghasilkan residu pestisida yang sesedikit mungkin, produk yang mengandung residu pestisida tersebut aman dikonsumsi, dan tidak mengalami hambatan dalam perdagangannya.

[]

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: