Ragan dan Cara Perbanyakan Tanaman

8 01 2009

Ragan dan Cara Perbanyakan Tanaman

Perbanyakan tanaman sering dilakukan oleh para penangkar tanaman, penjual bibit atau para hobi-is. Bertujuan menghasilkan tanaman baru sejenis yang sama unggul atau bahkan lebih. Caranya dengan menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari tanaman induk yang memiliki sifat unggul.

Secara umum perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan tiga tehnik yaitu perbanyaka generatif, vegetati, dan generatif-vegetatif. Cara perbanyakannya sendiri dilakukan dengan cara menanam biji atau anakan, cangkok, stek, rundukan, menempel (okulasi) serta menyambung (Grafting).

Setiap tanaman memiliki cara perbanyakan yang berbeda dengan tanaman lainnya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan dalam melakukannya. Salah satunya adalah jenis tanaman itu sendiri. Sebagai contoh: tanaman sukulen seperti pisang hanya dapat diperbanyak dengan menanam anakannya atau dengan stek akar. Sementara itu, tanaman berbatang kayu seperti durian tidak dapat diperbanyak dengan anakan. Karena itu, sebelum melakukan perbanyakan tanaman harus disesuaikan antara cara perbanyakan tanaman yang digunakan dan jenis tanaman yang akan diperbanyak.

Tabel : Cara perbanyakan beberapa tanaman buah

Jenis Tanaman

Cara Perbanyakan

Biji

Setek

Cangkok

Okulasi

Sambung

Susuan

Anakan

Alpukat

*

-

+

+

+

-

-

Anggur

-

+

+

-

-

?

-

Apel

+

-

+

+

+

?

-

Belimbing

*

-

*

+

+

+

-

Belimbing Manis

*

-

+

+

+

+

-

Cempedak

+

-

*

+

+

+

-

Delima

-

+

+

-

-

?

-

Duku

*

-

*

+

+

+

-

Durian

*

-

-

+

+

+

-

Gandaria

+

-

+

+

+

?

-

Jambu Air

-

+

+

-

-

-

-

Jamblang

+

-

-

+

+

?

-

Jambu Biji

+

+

+

+

+

-

-

Jeruk

+

+

+

+

+

-

-

Kecapi

+

-

-

-

-

-

-

Kedondong Lokal

+

-

*

*

*

*

-

Kedondong bangkok

+

-

-

-

-

-

-

Kesemek

-

-

-

+

+

?

-

Keluwih

+

-

-

-

-

-

-

Leci

+

-

-

-

-

-

-

Lengkeng

+

-

-

+

+

?

-

Mangga

*

-

+

+

+

+

-

Manggis

+

-

-

-

+

+

-

Nangka

+

-

*

+

+

+

-

Nangka Mini

+

-

-

-

-

-

-

Nona

+

-

-

+

+

?

-

Pepaya

+

-

-

-

-

-

-

Pisang

-

-

-

-

-

-

+

Rambutan

*

-

+

+

-

+

-

Salak

+

-

-

-

-

-

+

Sawo

-

-

+

-

-

-

-

Sirsak

-

-

*

+

+

+

-

Srikaya

+

-

-

+

+

?

-

Keterangan:

+ Baik

- Tidak Baik (gagal)

* Kurang Baik

? Belum diketahui

Persiapan Melakukan Perbanyakan Tanaman

A. Pohon Induk

Pohon induk adalah tanaman yang dijadikan bahan awal untuk kegiatan perbanyakan tanaman. Pohon induk bisa berasal dari hasil persilangan (hibrida), bibit biji, atau hasil perbanyakan secara vegetatif. Bagian dari pohon induk yang digunakan untuk bahan perbanyakan tanaman bisa berupa biji, akark, batang atau pucuknya.

Syarat Pohon Induk

Pohon induk dipilih dari tanaman yang sudah jelas asal usulnya dan keunggulan sifatnya, baik dari segi pertumbuhan, kuantitas dan kualitas potensi produksi, maupun ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit. Semua kriteria ini harus terpenuhi karena akan memenuhi kualitas bibit perbanyakan yang dihasilkan.

Sangat tidak dianjurkan memakai pohon induk yang sakit karena kemungkinan besar bibit perbanyakan yang dihasilkan juga akan membawa penyakit dari pohon induk. Selain itu, pohon induk juga harus dijaga dari kemungkinan terjadinya penyerbukan silang dengan tanaman lain yang tidak jelas asal usul dan keunggulan sifatnya. Jika ini terjadi, bibit perbanyakan yang dihasilkan akan memiliki keragaman sifat yang tinggi, tetapi belum tentu semuanya bersifat unggul.

Untuk memperbanyak tanaman keras dan tanaman buah tahunan, pohon induk dipilih Abu Sa’id al-Khudri tanaman yang sudah berbuah sedikitnya lima kali agar diketahui secara pasti keunggulan sifat buahnya. Sementara itu, untuk memperbanyak tanaman sayuran dan buah-buahan berumur pendek seperti tomat, cabai, pepaya, melon dan semangka; pohon induk dipilih dari tanaman yang bersosok kekar, pertumbuhannya baik dan sehat.

Mendapatkan Pohon Induk

Mendapatkan pohon induk bukanlah pekerjaan yang sulit karena saat ini sudah banyak penangkar bibit dan toko pertanian yang menjualnya. Pohon induk yang dijual berasal dari tanaman varietas unggull nasional atau varietas komersial. Varietas unggul nasional adalah tanaman yang telah diakui keunggulan sifatnya oleh pemerintah, dan ditetapkan dengan surat keputusan menteri pertanian tentang pelepasan varietas. Contohnya mangga arumanis 143, Belimbing Dewi, Durian Montong, dan Avocad BM Lebak. Sementara itu, varietas komersial adalah tanaman yang telah dikenal keunggulan sifatnya di pasaran, tetapi belum disahkan oleh pemerintah sebagai varietas unggul. Contohnya, Durian Gajah dari Manado, Belimbing Tasikmadu dari Tuban, dan Duku Palembang.

Selain membeli dari penagkar atau toko pertanian, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pohon induk.

a. Melakukan Eksplorasi

Eksplorasi adalah kegiatan melacak ke berbagai tempat yang diduga menjadi sentra tumbuhnya tanaman unggulan yang memenuhi syarat untuk dijadikan pohon induk. Prosesnya diawali dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang keberadaan tanaman yang dimaksud. Setelah informasi terkumpul, datangi lokasi untuk mengecek kebenarannya. Jika memang ada, dan kualitasnya benar-benar unggul, kita dapat membeli tanaman tersebut.

Informasi tentang keberadaan pohon induk dapat diperoleh dari media massa seperti koran, tabloid, atau majalah pertanian. Banyak jenis tanaman unggulan yang cocok dijadikan pohon induk dipublikasikan di media massa. Contohnya adalah durian bantal mas dari Sumatera Selatan dan Mangga Dodol asal Minahasa – Sulawesi Utara yang sekarang sudah ditetapkan sebagai varietas unggul nasional.

b. Arena Kontes atau Lomba

area kontes atau lomba merupakan ajang memperkenalkan dan mempromosikan tanaman berpotensi unggul yang dimiliki oleh masyarakat umum, penangkar, atau hobi-is. Cara ini banyak dilakukan oleh dinas-dinas pertanian di berbagai daerah untuk menjaring tanaman varietas unggul.

Biasanya tanaman yang dijadikan pemenang dikedua ajang ini disahkan dan dilepas oleh pemerintah sebagai varietas unggul nasional. Contohnya adalah durian petruk yang memenangi lomba durian yang digelar oleh dinas pertanaian kabupaten Jepara dan Belimbing Dewi yang memenangi lomba buang unggul yang digelar oleh Dinas Pertanian DKI.

c. Introduksi

introduksi adalah mendatangkan tanaman unggulan dari daerah lain atau dari luar negeri. Cara ini biasa dilakukan oleh para hobi-is yang ingin cepat mendapatkan pohon induk. Contohnya adalah si Otong dan Kani, dua jenis durian yang diintroduksi dari Thailand, dan sekarang menjadi durian unggul nasional contoh lain adalah lengkeng Pingpong dan Diamond River serta beragam jenis Aglaonema dan Adenium Hibrida yang juga berasal dari Thailand.

B. Bahan Tanam

Bahan tanam adalah bagian dari pohon induk yang digunakan untuk memperbanyak tanaman baik untuk perbanyakan secara generatif atau untuk perbanyakan secara vegetatif. Bahan tanam harus berasal dari pohon induk yang sehat dan telah diketahui silsilahnya, mudah dibiakkan, produktivitasnya tinggi, berbatang kekar, tumbuh normal serta memiliki perakaran yang kuat dan rimbun.

a. Bahan Tanamn untuk Perbanyakan Secara Generatif

bahan tanam yang digunakan adalah biji. Biji yang dipilih yang berukuran besar, bernas atau padat, warnanya mengkilap, bentuknya normal dan sempurna, serta segar dan sehat. Biji dengan spesifikasi seperti ini berasal dari buah yang tua atau matang pohon. Sementara itu, pemilihan juga harus disesuaikan dengan tujuan perbanyakan dan jenis tanamannya.

Untuk bibit bawah, biji dipilih dari pohon induk yang memiliki sifat unggul dalam hal fisik seperti mudah dibiakkan, memiliki perakaran yang kuat, banyak dan dalam, serta berbatang kekar dan normal. Selain itu, pohon induk juga harus tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan, tahan serangan hama dan penyakit, gampang mengeluarkan buah dan berproduksi terus menerus, serta berbiji cukup besar dan banyak agar dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan kembali.

Untuk pohon penghasil kayu seperti jati, mahoni, ulin dan nyatoh, biji dipilih dari pohon induk yang memiliki pertumbuhan tinggi, diameternya besar, batangnya tumbuh lurus, tajuknya normal sesuai karakter jenis, tahan serangan hama dan penyakit, mutu kayunya baik, umurnya cukup tua serta sudah pernah berbunga.

Untuk pohon penghasil makanan ternak, pupuk hijau atau untuk tanaman pagar hidup seperti lamtoro, biji dipilih dari pohon induk yang pertumbuhannya cepat, produksi daunnya tinggi, mudah diperbanyak secara vegetatif, tahan serangan hama dan penyakit, sosoknya pendek, serta tahan kering.

Untuk pohon penghasil buah, biji dipilih dari pohon induk yang pertumbuhannya baik, buahnya lebat dan besar, percabangannya pendek, umurnya cukup tua serta tahan serangan hama dan penyakit

Saat ini untuk beberapa jenis tanaman palawija, sayuran dan bunga potong sudah dapat dibeli di toko-toko pertanian. Biji-biji tersebut berasal dari produksi lokal seperti panah merah, kapal terbang, tuhu jogja, dan MGA atau produksi impor dari Known You Seed Taiwan dan taki’i Seed Jepang.

b. Bahan Tanam untuk Perbanyakan Secara Vegetatif

Bahan tanam untuk perbanyakan secara vegetatif sebaiknya berasal dari pohon induk yang telah diketahui silsilahnya, tingkat pertumbuhan, serta kualitas dan kuantitas produksi buahnya. Untuk stek, bagian vegetatif yang digunakan adalah batang, daun, akar atau umbi. Untuk cangkokan, rundukan, atau sambung susuan, bagian vegetatif yang digunakan adalah pohon induk secara keseluruhan. Sementara itu, bagian vegetatif yang digunakan untuk okulasi dan sambungan entres yaitu cabang yang diambildari bagian pucuk pohon induk.

Cabang entres harus dalam kondisi segar saat disambungkan atau ditempelkan di batang bawah. Oleh karena itu, setelah dipotong harus segera disambungkan atau ditempelkan di batang bawah yang telah disiapkan. Jika entres didatangkan dari lokasi yang berjauhan dengan lokasi batang bawah, diperlukan perlakukan khusus agar entres tetap segar.

Berikut ini langkah-langkah menjaga kesegaran entres:

Potong entres sepanjang 20-30 cm, lalu rompes seluruh daunnya untuk mengurangi terjadinya penguapan yang dapat menyebabkan entres kehilangan air sehingga menjadi keriput dan layu. Jika ini terjadi tingkat keberhasilan okulasi atau penyambungan akan berkurang.

Satukan entres dengan mengikatnya menggunakan karet gelang. Jumlah setiap ikatan 10-30 buah, sesuai dengan diameternya, kemudian perciki air agar kondisinya tetap segar

Bungkus ikatan entres dengan beberapa lapis tisu, kertas koran atau moss yang telah dibasahi air, kemudian bungkus dengan kantong plastik atau kantong kresek untuk menjaga agar lapisan tisu, kertas koran atau moss tetap lembab. Dengan perlakukan ini kesegaran entres dapat terjamin selama 2 x 24 jam.

Jika lokasi pengambilan entres sangat jauh, sebaiknya bungkusan entres dilapisi dengan pelepah pisang. Pelepah pisang mengandung banyak air dan rongga-rongga udara sehingga dapat menghambat masuknya panas dari luar ke bagian dalam entres. Jika diinapkan, letakkan entres di dalam ruang ber-AC tetapi jangan menyimpannya di dalam lemari pendingin karena dapat menyebabkan mata tunas entres mati. Kemudian entres dimasukkan ke dalam koper atau tas pakaian dan diletakkan di bagian paling atas agar tidak rusak atau patah tertindih pakaian dan barang-barang berat lainnya.

Posisi entres harus direbahkan agar cairan di dalamnya tidak turun karena bisa menyebabkan kulit batang entres mengerut sehingga sulit dikelupas. Saat pengangkutan, koper atau tas pakaian tempat menyimpan entres tidakn boleh diletakkan di dekat mesin atau dashboard karena bisa menyebabkan entres mati kekeringan akibat panas.

Perlu diperhatikan, jangan menyiram atau mencuci entres karena dapat mengundang bakteri patogen masuk ke dalam jaringan kayu sehingga menyebabkan entres membusuk. Jika terpaksa harus dicuci karena kotor atau terkena air hujan, sebaiknya entres dikeringanginkan terlebih dahulu sebelum dikemas.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Cangkok

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Cangkok

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN CANGKOK

Keunggulan cangkok adalah mudah dilakukan dan tingkat keberhasilannya tinggi. Selain itu, tanaman yang dihasilkan dapat mewarisi 100% sifat pohon induknya. Namun, tanaman hasil cangkok memiliki kelemahan, yaitu percabangannya tidak lebat dan tidak kompak, serta produktivitas buahnya terbatas. Selain itu, tanaman hasil cangkok tidak memiliki sistem perakaran yang kuat karena tidak memiliki akar tunggang, dan serabut-serabut akarnya juga tidak rimbun. Akibatnya tanaman mudah roboh saat tertiup angin kencang, dan tidak kuat menghadapi kekeringan pada musim kemarau.

Cangkok sangat cocok dilakukan pada tanaman buah-buahan yang batangnya berkayu seperti mangga, jeruk, jambu biji, jambu air, belimbing manis, lengkeng serta tanaman hias seperti bugenvil, mawar, dan kemuning. Sementara itu, dengan cara yang berbeda, beberapa tanaman tidak berkayu seperti salak, pepaya dan beberapa jenis tanaman hias seperti dieffenbachia dan aglonema juga dapat diperbanyak dengan cangkok.

Mencangkok Tanaman Berkayu

Pohon induk yang dicangkok harus cukup umur, kuat, bercabang banyak, serta tidak terserang hama dan penyakit. Idealnya, pohon induk sudah berbuah sedikitnya tiga kali agar kualitas buah dapat diketahui dengan pasti. Pohon induk yang sedang sakit, sebaiknya jangan dicangkok karena akan mati setelah cabang cangkokan dipotong.

Media yang digunakan untuk mencangkok antara lain moss (akar pakis Asplenium nidus), serbuk serabut kelapa (coco peat), tanah serasah pohon bambu. Selain itu, bisa juga digunakan campuran tanah dan kompos atau pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. penggunaan moss lebih dianjurkan karena bobotnya ringan dan mudah ditembus oleh akar cangkokan, dan mampu menyerap serta menyimpan air sehingga dapat meningkatkan keberhasilan cangkokan. Pada cangkokan tambahkan pupuk NPK 15:15:15 atau 16:16:16 sebanyak lima gram/kg media. Tujuannya mempercepat pertumbuhan akar cangkokan dan menjaga kesehatan cabang yang dicangkok. Sebelum digunakan, pupuk dilumatkan terlebih dahulu sampai halus, lalu campurkan secara merata dengan media.

Selain pupuk NPK, bisa juga digunakan pupuk daun yang memiliki kandungan P tinggi. Jenisnya antara lain BASF Foliar B, Fudatan, Gandapan Reginae, Gandasil, Growmore 10-55-10, Hyponex Biru, Hyponex Hijau, dan Shell Foliar-B. Pemberiannya disesuaikan dengan jenis media cangkok yang digunakan. Untuk media berupa tanah, campurkan sebanyak 3-5 gram/kg media. Sementara itu, jika media yang digunakan berupa moss, pemberiannya dilakukan dengan cara merendamnya selama 1-2 jam di dalam larutan pupuk sebanyak 3-5 gram/liter air.

Pembungkus media cangkok antara lain ijuk, sabut kelapa, pot plastik, potongan botol bekas kemasan air mineral, gelas bekas kemasan air mineral atau tabung bambu. Namun, pembungkus yang terbaik adalah plastik bening karena dapat menahan penguapan air di dalam media sehingga kelembabannya tetap tinggi. Keadaan ini membuat akar semakin cepat tumbuh. Selain itu, dengan menggunakan plastik bening, pertumbuhan akar juga gampang dikontrol setiap saat.

Semua percabangan pohon induk dapat dicangkok, asalkan rajin mengeluarkan buah. Namun untuk efisiensi, cukup cabang dan ranting berukuran kecil yang dicangkok agar dari satu pohon induk dapat diperoleh belasan atau puluhan bibit cangkokan. Selain itu, bentuk tajuk pohon induk tetap terjaga jika cabang atau ranting kecil saja yang dicangkok.

Pilih cabang atau ranting yang memiliki panjang 20-30 cm. sosoknya tegap, mulus, dan sehat dengan warna kulit coklat muda atau hijau kecoklatan tergantung pada jenis tanamannnya. Perlu diperhatikan, jangan mencangkok cabang yang berwarna kehitaman dan berkerak karena lambat menumbuhkan akar. Selain itu, umur cabang yang dicangkok tidak boleh terlalu tua atau terlalu muda karena cabang seperti ini hanya memiliki sedikit persediaan makanan sehingga menghambat tumbuhnya akar.

Berikut ini langkah-langkah mencangkok:

1. Sayat cabang atau ranting yang hendak dicangkok dengan menggunakan pisau yang tajam. Bidang sayatan melingkar selebar 2-3 kali diameter cabang. Penyayatan dilakukan tepat dibawah kuncup daun karena disinilah tempat berkumpulnya zat pembentuk akar (rizokalin).
2. Kupas kulit batang di bidang sayatan sampai terlihat kambiumnya yang berlendir. Buang kambium ini dengan cara dikerok menggunakan mata pisau. Lakukan pengerokan dengan hati-hati agar tidak melukai jaringan kayunya. Perlu diperhatikan, bidang sayatan tidak boleh langsung dibungkus media karena dapat memicu tumbuhnya jamur atau bakteri. Oleh karena itu, biarkan bidang sayatan selama 2-7 hari sampai mengering dan tidak ada lagi getah yang keluar. Setelah mengering, olesi dengan hormon penumbuh akar seperti Rootone F. Caranya Rootone F diberi sedikit air dan diaduk sampai menjadi pasta. Lalu oleskan merata, terutama di kulit bagian atas sayatan.
3. Membungkus Bidang Cangkokan. Membungkus bidang sayatan berbeda-beda tergantung pada media dan pembungkus yang digunakan. Jika media yang digunakan adalah moss, serbuk sabut kelapa atau campuran tanah dan kompos, yang terlebih dahulu dilakukan adalah melingkarkan lembaran plastik ke bidang sayatan, lalu mengikat bagian bawahnya sampai membentuk kantong. Posisi ikatan di bagian bawah 5-6 cm di bawah bidang sayatan. Setelah itu, media yang telah dibasahi air diisikan ke dalam plastik sampai memenuhi sekeliling bidang sayatan. Kemudian plastik dirapikan, lalu diikat di bagian tengah dan atasnya. Sementara itu, jika media yang digunakan berupa tanah dan pembungkusnya adalah kantong plastik, media cangkok dimasukkan terlebih dahulu sampai penuh lalu ikat bagian atas kantong sampai terbentuk bongkahan media. Setelah itu, bongkahan media dibelah menjadi dua dan ditangkupkan ke bidang sayatan lalu disatukan dan diikat erat agar tidak lepas.
4. Merawat Cangkokan. Cangkokan cukup disiram satu minggu sekali agar medianya tetap lembab. Penyiraman dilakukan dengan menyuntikkan air ke dalam media atau meneteskannya melalui bagian atas pembungkus. Jangan menyiram terlalu banyak karena media yang terlalu basah membuat calon akar yang tumbuh membusuk sehingga menyebabkan kegagalan cangkokan. Biasanya akar cangkokan baru tumbuh 1-3 bulan setelah cangkok, tergantung jenis tanamannya. Tanaman yang bergetah seperti nangka dan sawo lebih lama pertumbuhan akarnya, dibandingkan dengan tanaman yang tidak bergetah.
5. Memotong Cangkokan. Batang cangkokan dapat dipotong saat akar cangkokan sudah tumbuh memenuhi media dan daun di bawah cangkokan terlihat segar. Pemotongan dilakukan tepat dibawah pembungkus. Jika pemotongannya terlalu panjang saat ditanam cabang akan berada di bawah bidang cangkokan sehingga dapat terserang rayap dan menyebabkan kematian. Selain itu, sisa cabang induk di bawah bidang cangkokan masih dapat menumbuhkan beberapa cabang baru.

Setelah dipotong, sebagian daun cabang cangkokan dibuang untuk mengurangi penguapan yang berlebihan. Caranya dengan menggunting 1/2 – 2/3 helai daun dari seluruh daun yang ada. Ke,m bibit cangkokan disapih selama 4-6 bulan di dalam polibag. Selama itu, cangkokan harus disiram setiap hari 1-2 kali, tergantung pada cuaca. Jika cuaca panas, penyiraman dilakukan dua kali. Sementara itu, jika cuaca mendung penyiraman cukup dilakukan sekali saja.

Satu atau dua bulan sekali, berikan NPK dengan dosis satu sendok teh per tanaman agar akarnya semakin cepat besar. Penyiangan juga perlu dilakukan jika ada rumput atau tanaman liar tumbuh di dalam polibag. Setelah nampak segar dan pertumbuhannya sehat, cangkokan dapat dipindahkan ke media pembesaran.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Setek Mata Tunas

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif :

Setek Mata Tunas

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas.

Perbanyakan dengan setek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan dan tehnik yang rumit. Keunggulan tehnik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan setek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini. Misalnya anggur, kedondong, sukun, jambu air, markisa, alpukat, dan beberapa jenis jeruk serta tanaman hias seperti aglonema, dieffenbachia dan mawar.

Sama seperti tanaman hasil perbanyakan cangkok, tanaman hasil perbanyakan setek juga tidak memiliki akar tunggang sehingga mudah roboh saat tertiup angin kencang. Oleh karena itu, tanaman hasil perbanyakan setek hanya dapat ditanam di lokasi yang permukaan air tanahnya dangkal. Berdasarkan asal bagian tanaman yang digunakan, ada beberapa macam setek. Yaitu setek batang, akar, tunas dan daun.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK MATA TUNAS

Setek mata tunas biasanya dilakukan untuk memperbanyak nanas, anggur, dan tanaman hias seperti dieffenbachia serta aglonema. Batang untuk setek mata tunas diambil dari batang tanaman induk yang sehat dan subur, lalu dipotong-potong sepanjang 2-4 cm. Setiap potongan batang harus memiliki satu mata tunas yang bentuknya besar dan bulat. Kemudian, pangkal dan ujung setek dipotong miring dengan sudut kemiringan 45 0, lalu oleskan Rootone-F untuk merangsang tumbuhnya akar. Cara lain untuk menumbuhkan akar adalah dengan merendam setek di dalam larutan Atonik dengan konsentrasi 1-2 cc per liter air.

Setek disemai dalam polibag atau kotak kayu berisi media berupa campuran pasir dan kompos dengan perbandingan 1:1. Caranya dengan meletakkan setek pada permukaan media, lalu ditutup dengan lapisan pasir. Namun, posisi mata tunas harus tetap berada di permukaan media. Jika mata tunas tertutup media, setek akan membusuk dan tidak menumbuhkan akar dan tunas baru. Siram media sampai basah, lalu tutup dengan plastik bening atau kaca tembus cahaya.

Letakkan wadah persemaian di tempat yang sejuk dan bersuhu tidak lebih dari 250C. Dalam waktu 1-2 bulan, mata tunas sudah memunculkan tunas dan akar. Tanaman baru dapat dipindahkan ke polibag pembesaran setelah berumur 2-4 minggu saat perakarannya sudah cukup lebat dan daunnya terbuka sempurna.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Setek Daun

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif :

Setek Daun

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas.

Perbanyakan dengan setek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan dan tehnik yang rumit. Keunggulan tehnik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan setek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini. Misalnya anggur, kedondong, sukun, jambu air, markisa, alpukat, dan beberapa jenis jeruk serta tanaman hias seperti aglonema, dieffenbachia dan mawar.

Sama seperti tanaman hasil perbanyakan cangkok, tanaman hasil perbanyakan setek juga tidak memiliki akar tunggang sehingga mudah roboh saat tertiup angin kencang. Oleh karena itu, tanaman hasil perbanyakan setek hanya dapat ditanam di lokasi yang permukaan air tanahnya dangkal. Berdasarkan asal bagian tanaman yang digunakan, ada beberapa macam setek. Yaitu setek batang, akar, tunas dan daun.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK DAUN

Setek daun dilakukan untuk memperbanyak tanaman hias yang berbatang sukulen, berdaun tebal, dan memiliki kandungan air tinggi. Contohnya, Begonia, Sansevieria, Violces, Wijayakusuma, Zamea curcas, dan sosor bebek. Bahan setek dapat berupa daun utuh, atau hanya berupa potongan-potongan daun, tergantung pada jenis tanamannya. Untuk violces (Saintpaulia sp) dan Zamea curcas digunakan daun lengkap. Untuk Begonia sp (Begonia) digunakan daun lengkap atau hanya berupa irisan-irisan daun. Sementara itu, untuk lidah mertua (Sansevieria sp) yang digunakan adalah potongan-potongan daun sepanjang 10 cm. Daun untuk setek sebaiknya yang berwarna hijau segar dan berumur cukup tua. Daun seperti ini memiliki karbohidrat dan nitrogen cukup tinggi sehingga cukup untuk menumbuhkan akar.

Sebelum disemai, setek diberi hormon tumbuh untuk mempercepat pertumbuhan akar. Kemudian disemai ke dalam media bersama campuran tanah kebun, kompos, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:2:2:2, lalu disiram secukupnya. Tutup persemaian dengan plastik transparan untuk menjaga kelembabannya tetap tinggi. Biasanya dalam waktu 2-3 minggu setek sudah memunculkan tunas baru. Setelah perakarannya cukup banyak, setek dapat dipindahkan ke polibag.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Setek Akar

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif :

Setek Akar

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas.

Perbanyakan dengan setek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan dan tehnik yang rumit. Keunggulan tehnik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan setek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini. Misalnya anggur, kedondong, sukun, jambu air, markisa, alpukat, dan beberapa jenis jeruk serta tanaman hias seperti aglonema, dieffenbachia dan mawar.

Sama seperti tanaman hasil perbanyakan cangkok, tanaman hasil perbanyakan setek juga tidak memiliki akar tunggang sehingga mudah roboh saat tertiup angin kencang. Oleh karena itu, tanaman hasil perbanyakan setek hanya dapat ditanam di lokasi yang permukaan air tanahnya dangkal. Berdasarkan asal bagian tanaman yang digunakan, ada beberapa macam setek. Yaitu setek batang, akar, tunas dan daun.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN SETEK AKAR

Walaupun tidak memiliki mata tunas, akar dapat memunculkan tunas di dinding atau dibekas potongannya yang telah muncul kalus. Tanaman yang dapat diperbanyak dengan cara ini cukup banyak, misalnya tanaman berbentuk pohon, semak, tanaman merambat, tanaman tahunan, sampai tanaman dataran tinggi. Beberapa diantaranya adalah cemara, jambu biji, jeruk keprok dan sukun.

Bahan setek akar harus berupa akar lateral yaitu akar yang tumbuh ke arah samping sejajar dh permukaan tanah. Sebaiknya pilih akar muda yang berukuran 1 cm atau sebesar pensil karena lebih cepat memunculkan akar dibandingkan dengan akar tua. Untuk tanaman besar berbentuk semak atau pohon, pengambilan akar dilakukan dengan melubangi tanah sampai akar-akarnya kelihatan. Kemudian ambil akar yang diperlukan, lalu lubang ditutup kembali dengan tanah. Sementara itu, untuk tanaman kecil, pengambilan akar dilakukan dengan mencabut tanaman tersebut, lalu memotong akar yang diperlukan. Setelah itu, tanaman ditanam kembali.

Akar yang telah diambil kemudian dipotong-potong sepanjang 5-10 cm menggunakan silet atau pisau tajam agar menghasilkan potongan yang bersih dan rata. Bagian akar yang dekat dengan pangkal batang dipotong secara serong, sementara itu bagian ujungnya dipotong datar, lalu ditaburi dengan fungisida untuk mencegah serangan jamur.

Setek akar disemai dalam media pasir setebal 7-10 cm. Posisinya dapat tegak atau dibaringkan. Jika disemai tegak, bagian pangkal dibenamkan ke dalam media sedalam 3-5 cm atau setengah dari panjang setek, dengan jarak antar setek 4-5 cm. Sementara itu, jika disemai dengan cara dibaringkan, setek cukup disusun dalam barisan berjarak 5 cm, lalu ditutup pasir setebal 2-3 cm.

Media semai harus selalu lembab agar setek menghasilkan tunas dan akar yang banyak. Oleh karena itu, media disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Persemaian juga harus disungkup dengan plastik agar kelembabannya tetap tinggi sehingga perumbuhan akar dan tunas menjadi lebih cepat. Setek dapat dipindahkan ke polibag pembesaran jika akarnya telah tumbuh banyak.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Rundukan

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Rundukan

PENGANTAR

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

PERBANYAKAN TANAMAN DENGAN RUNDUKAN

Rundukan sering disebut cangkok tanah atau cangkok runduk karena dilakukan dengan merundukkan cabang pohon induk sampai menyentuh tanah, lalu menutupnya dengan media. Pada dasarnya, cara rundukan sama dengan mencangkok, yaitu membungkus bagian tanaman dengan media untuk menumbuhkan akar. Namun, cara rundukan tidak memerlukan pembungkus. Perbanyakan ini memiliki tingkat keberhasilan sampai 100%, karena cabang yang diperbanyak tetap mendapatkan asupan makanan dari pohon induknya.

Tanaman yang biasa diperbanyak dengan rundukan adalah tanaman yang bercabang panjang dan lentur seperti murbai, stroberi, apel, mawar dan azalea. Selain itu, juga tanaman menjalar dan merambat seperti labu kuning dan labu air. Secara alami, tanaman-tanaman tersebut dapat melakukan perbanyakan sendiri saat bagian tanamannya terkulai menyentuh tanah. Lama-kelamaan dari bagian tersebut akan tumbuh akar dan tunas. Jika dipotong dan ditanam lagi dapat tumbuh menjadi tanaman baru yang produktif.

Ada beberapa tipe perbanyakan dengan cara rundukan:

1. Tehnik Tip Layerage

Tehnik Tip Layerage dilakukan dengan menanam ke dalam tanah seluruh bagian ujung cabang tanaman. Tehnik ini biasa dilakukan oleh pekebun di luar negeri untuk memperbanyak tanaman stroberi dan murbai. Caranya, buat lubang sedalam 2-3 cm dibawah cabang yang dirundukkan. Kemudian cabang ditarik ke bawah sampai bagian ujungnya menjangkau dasar lubang, lalu tutup dengan tanah. Boasanya dalam waktu 2-3 bulan tumbuh akar di sekitar ujung cabang dan tunas baru muncul ke permukaan tanah. Tehnik ini sebaiknya dilakukan pada akhir musim kemarau agar sebelum musim hujan berakhir bibit sudah dapat dipisahkan dari pohon induknya untuk ditanam kembali dari satu cabang yang dirundukkan.

2. Tehnik Common Layerage

Tehnik common layerage dilakukan dengan menanam bagian ujung cabang, tetapi pucuknya dibiarkan muncul ke permukaan tanah. Tehnik ini dilakukan untuk memperbanyak tanaman apel dan mawar pagar. Caranya, buat lubang sedalam 10-20 cm di bawah cabang yang dirundukkan. Setelah itu, cabang ditarik ke bawah sampai bagian ujungnya menjangkau dasar lubang. Agar cabang tidak kembali ke posisi semula, tahan dengan sebilah bambu atau kawat yang dilengkungkan. Sebelum ditutup tanah, bagian cabang yang ditanam sebaiknya dilukai terlebih dahulu untuk merangsang titik-titik tumbuh akar. Tehnik ini hanya menghasilkan satu tanaman baru dari satu cabang yang dirundukkan.

3. Tehnik Trench Layerage

Tehnik trench layerage dilakukan dengan menanam cabang tanaman ke dalam lubang yang dibuat memanjang seperti parit (trench). Tehnik ini sering dilakukan untuk memperbanyak batang bawah apel, azalea, serta mawar. Caranya, buat lubang sedalam 5-12,5 cm di bawah cabang yang dirundukkan. Kemudian cabang dirundukkan memanjang memanjang di dasar lubang. Agar cabang tidak muncul ke atas permukaan tanah, bagian ujung dan pangkal cabang yang menyentuh tanah ditahan menggunakan sebilah bambu atau kawat yang dibengkokkan. Sementara itu, pucuk cabang dengan beberapa lembar daunnya dibiarkan tetap diatas permukaan tanah, lalu cabang ditutup dengan tanah. Biasanya dari setiap ruas cabang yang ditanam akan muncul beberapa tunas baru. Setelah perakarannya tumbuh banyak, ruas-ruas cabang yang telah bertunas dipotong-potong dan ditanam kembali. Karena menghasilkan banyak tunas yang berbaris di sepanjang lubang maka tehnik ini sering juga disebut tehnik continuous layerage.

4. Tehnik Compound Layerage

Tehnik ini mirip dengan trench layerage, tetapi bagian cabang yang ditanam tidak seluruhnya, hanya di beberapa tempat di satu cabang yang ditutup dengan tanah sehingga cabang tanaman berselang-seling berada di dalam dan diatas tanah. Di bagian cabang yang muncul diatas tanah akan tumbuh tunas-tunas baru, sementara itu, akar tumbuh di bagian cabang yang tertutup tanah. Di luar negeri, tanaman anggur banyak diperbanyak dengan cara ini. Cabang rundukan dipotong jika perakarannya telah cukup banyak dan tunas-tunasnya telah tumbuh subur. Kemudian bibit dipotong di dalam pot, polibag atau dapat langsung ditanam di kebun secara individual. Tehnik ini menghasilkan dua atau lebih tanaman baru dari satu cabang yang dirundukkan.

Untuk semua tehnik yang digunakan, tanah tempat menanam rundukan cabang harus subur dan gembur agar pertumbuhan akar dan tunas semakin cepat. Oleh karena itu, media untuk menutup cabang berupa campuran tanah topsoi dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1:1. selain itu, tambahkan zat perangsang tumbuh (ZPT) dan NPK sebanyak 1 sendok makan/kg media.

Jika ZPT yang digunakan berbentuk bubuk seperti Rootone-F, beri sedikit air terlebih dahulu lalu diaduk sampai menjadi pasta. Setelah itu, oleskan ke bagian cabang yang dirundukkan. Jika ZPT yang digunakan berbentuk cairan seperti Atonik atau Florita, cara pemberiannya adalah dengan menyemprotkannya secara rutin seminggu sekali ke bagian tanah yang menutupi cabang dengan dosis 1-2 cc/liter air. Lakukan penyiraman 1-2 hari sekali agar media rundukan tetap terjaga kelembabannya.

Sumber :

Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.

[]





Perbanyakan Tanaman Secara Generatif

8 01 2009

Perbanyakan Tanaman Secara Generatif
Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menanam biji yang dihasilkan dari penyerbukan antara bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina (kepala putik). Secara alami proses penyerbukan terjadi dengan bantuan angin atau serangga. Namun, saat ini penyerbukan sering dilakukan manusia, terutama para pemulia tanaman untuk memperbanyak atau menyilang tanaman dari beberapa varietas yang berbeda.
Keunggulan tanaman hasil perbanyakan secara generatif adalah sistem perakarannya yang kuat dan rimbun. Oleh karena itu, sering dijadikan sebagai batang bawah untuk okulasi atau sambungan. Selain itu, tanaman hasil perbanyakan generatif juga digunakan untuk program penghijauan di lahan-lahan kritis yang lebih mementingkan konservasi lahan dibandingkan dengan produksi buahnya. Bahkan, kegiatan budidaya tanaman sayur dan beberapa jenis buah-buahan semusim seperti semangka dan melon tetap menggunakan bibit biji yang berasal dari perbanyakan secara generatif, tetapi bibit yang digunakan merupakan bibit-bibit unggul atau bibit biji varietas hibrida yang kualitas dan kuantitas buahnya tidak diragukan lagi.
Sementara itu, ada beberapa kelemahan dari perbanyakan secara generatif, yaitu sifat biji yang dihasilkan sering menyimpang dari sifat pohon induknya. Jika ditanam, dari ratusan atau ribuan biji yang bersal dari satu pohon induk yang sama akan menghasilkan banyak tanaman baru dengan sifat yang beragam. Ada yang sifatnya sama, atau bahkan lebih unggul dibandingkan dengan sifat pohon induknya. Namun, ada juga yang sama sekali tidak membawa sifat unggul pohon induk, bahkan lebih buruk sifatnya. Keragaman sifat ini terjadi karena adanya pengaruh mutasi gen dari pohon induk jantan dan betina.
Kelemahan lainnya, pertumbuhan vegetatif tanaman hasil perbanyakan secara generatif juga relatif lambat. Karena diawal pertumbuhannya, makanan yang dihasilkan dari proses fotosintesa lebih banyak digunakan untuk membentuk batang dan tajuk tanaman. Akibatnya, tanaman memerlukan waktu yang lama untuk berbunga dan berbuah. Contohnya tanaman mangga, durian, lengkeng, manggis atau duku yang berasal dari hasil perbanyakan secara generatif, baru akan berbuah setelah 8-10 tahun setelah tanam.
A. Menyiapkan Biji
Setelah biji dikeluarkan dari buah atau polongnya, bersihkan daging bauh dan lendir yang menempel agar tidak menjadi tempat tumbuhnya jamur. Untuk biji yang berukuran bersar seperti biji mangga atau durian, pembersihan cukup dilakukan dengan mencucinya menggunakan air bersih. Sementara itu, untuk biji berukuran kecil seperti biji jambu, atau biji yang terbungkus lapisan pembungkus (pectin) seperti biji pepaya, pembersihan dilakukan dengan meremas-remasnya menggunakan abu gosok sampai lendirnya hilang, lalu dicuci dengan air bersih.
Setelah bersih, biji diseleksi dengan melihat penampilan fisiknya. Biji yang memenuhi syarat sebagai benih adalah biji yang padat dan bernas, bentuk dan ukurannya seragam, permukaan kulitnya bersih dan tidak cacat. Kemudian biji hasil seleksi fisik direndam dalam air. Pilih biji yang tenggelam, karena ini menandakan daya kecambahnya lebih tinggi dibandingkan dengan biji yang terapung. Biij-biji inilah yang digunakan untuk memperbanyak tanaman secara generatif.
Sementara itu, untuk mencegah serangan penyakit, rendam biji di dalam larutan fungisida dan bakterisida seperti Benlate atau Dithane dengan dosis 2-3 gram/liter. Bisa juga menggunakan larutan formalin 4% atau sublimat 1% dengan dosis sesuai dengan aturan yang tertera di label kemasan.
Ada beberapa tanaman yang bijinya harus segera disemai setelah dikeluarkan dari buah atau polongnya. Biji seperti ini dikenal dengan biji rekalsitrans yaitu biji yang daya kecambahnya akan menurun jika disimpan terlalu lama, atau bahkan tidaka akan tumbuh jika dikeringkan. Contohnya adalah biji kemiri, meranti, mahoni, mangga, durian, dan nangka.
Namun, ada juga biji yang tetap berdaya kecambah tinggi walaupun sudah dikeringkan sampai kadar airnya hanya 5-10% dan disimpan dalam waktu yang lama. Asalkan dikemas dengan baik dan selalu terjaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Biji seperti ini disebut biji orthodok. Contohnya adalah biji sayuran seperti cabai dan tomat; biji tanaman buah berumur pendek seperti semangka, melon, dan pepaya; serta biji tanaman kehutanan seperti jati dan sengon.
B. Perlakuan Biji
Ada kalanya biji yang disemai lambat berkecambah bahkan tidak berkecambah sama sekali, walaupun media semainya sudah cocok. Hal ini disebabkan oleh dormansi yaitu keadaan terbungkusnya lembaga biji oleh lapisan kulit atau senyawa tertentu. Sebenarnya, dormansi merupakan cara embrio biji mempertahankan diri dari keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan, tetapi berakibat pada lambatnya proses perkecamabahan. Berikut ini jenis-jenis dormansi biji dan cara mengatasinya.
b.1 Dormansi Fisik
Dormansi fisik sering terjadi pada biji tanaman sayuran dan beberapa jenis tanaman kehutanan seperti sengon, akasia, jambu mete dan kaliandra. Penyebabnya adalah kulit biji yang tidak dapat dilewati oleh air. Cara mengatasinya, siram dan rendam biji dalam air panas selama 2-5 menit sampai kulitnya menjadi lebih lunak. Kemudian, rendam biji di dalam air dingin selama 1-2 hari agar air dapat menembus pori-pori kulit biji dan sampai ke embrionya.
b.2 Dormansi Mekanis
dormansi mekanis sering terjadi pada biji jati, kemiri, kenari, dan mangga. Penyebabnya adalah kulit biji yang terlalu keras sehingga sulit ditembus calon akar dan tunas. Pada biji mangga, dormansi ini dapat diatasi dengan menyayat dan membuang kulit bijinya. Sementara itu, pada biji yang terbungkus tempurung seperti biji kemiri dan kenari, dormansi mekanis dapat diatasi dengan membuang tempurungnya menjadi tipis, rusak atau retak agar mudah ditembus calon akar dan tunas. Caranya dengan mengetok pukul, mengikir-asah, menggesekkan pada lantai kasar, menggesek menggunakan kertas pasit, atau dengan membakarnya sebelum disemai.
b.3 Dormansi Kimia
dormansi kimia sering terjadi pada biji yang mengandung lapisan pektin seperti biji pepaya. Penyebabnya adalah adanya kandungan zat tertentu di dalam biji yang menghambat perkecambahan. Cara mengatasinya, rendam biij di dalam larutan Atonik dengan dosis 1 cc per 2 liter air selama 1 jam. Kemudian peram biji dengan gulungan kain basah selama 24 jam.
C. Penyemaian
Biji dapat disemai secara massal atau satu per satu. Jika disemai massal, wadah yang digunakan adalah bedengan. Jika disemai satu per satu wadah yang digunakan adalah wadah-wadah kecil seperti kotak kayu, polibag, pot plastik, keranjang kayu (besek), atau gelas bekas air mineral.
C.1. Penyemaian di Bedengan
Biji yang biasa disemai di bedengan adalah biji buah-buahan berukuran besar seperti mangga, advokad, nangka, cempedak, durian atau tanaman kehutanan yang memerlukan banyak bibit dalam pembudidayaannya sehingga tidak efisien jika disemai di dalam wadah-wadah kecil.
Lahan untuk bedeng semai dipilih yang permukaan tanahnya relatif rata, sistem drainasenya baik dan dekat dengan sumber air untuk penyiraman. Kemudian diolah dengan cara dicangkul sedalam 25-30 cm, lalu haluskan dan bersihkan dari gulma, sampah serta bebatuan. Setelah itu, buat bedeng semai dengan lebar 100 cm dan tinggi 30 cm atau lebih,. Panjang bedeng disesuaikan dengan kebutuhan dan luas lahan.
Sebaiknya bedeng semai dibuat ditempat terbuka dan menghadap ke arah utara-selatan agar mendapat sinar matahari penuh terutama di pagi hari untuk membantu mempercepat perkecambahan biji yang disemai. Untuk mencegah longsornya tanah bedeng, beri penahan dari belahan bambu di sekeliling bedeng semai.
Agar tanah bedeng semai menjadi remah dan subur campurkan pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos sebanyak satu kaleng minyak per meter persegi bedengan. Tambahkan juga pasir atau sekam padi dengan jumlah yang sama. Tanah bedeng semai yang remah dan subur membuat akar-akar tanaman muda tumbuh lurus dan rimbun, serta memudahkan pemindahan bibit ke media penyapihan atau ke lahan tanam yang sesungguhnya. Setelah itu, barulah biji disemai.
Untuk tanaman sayur dan tanaman hias, bijinya cukup ditebar diatas permukaan bedeng semai lalu ditutup lapisan tanah secara tipis agar tidak terbawa air saat penyiraman atau ketika turun hujan. Untuk menghindari serangan hama, taburkan insektisida dan nematisida berbahan aktif Carbofuran diatas permukaan bedeng semai.
Untuk tanaman buah-buahan dan tanaman kehutanan, bijinya dimasukkan ke dalam lubang tanam yang dibuat sedalam 7,5 cm dengan pola jarak 5-10 cm x 7,5 – 10 cm. Perlu diperhatikan, peletakan biji berukuran besar seperti biji durian, mangga, nangka atau advocad harus dengan posisi yang tepat. Bagian sisi calon tunas dan akar harus menghadap ke bawah. Jika terbalik, pertumbuhan akar dan batang membengkok sehingga mengganggu pertumbuhan bibit.
Setelah itu, lubang tanam ditutup tanah atau pasir setebal 1 cm. Tanah yang digunakan untuk menutup lubang tanam dicampur dengan insektisida dan nematisida berbahan aktif carbofuran seperti Furadan, Indofuran, dan Petrofur dengan dosis 10-20 gram per m2. Tujuannya adalah untuk menghindari serangan hama.
Untuk menjaga agar kelembabannya tetap tinggi, permukaan bedeng semai ditutup dengan jerami atau serbuk gergaji. Selain itu, diatas bedeng semai juga dipasang naungan berupa paraner, atap jerami, anyaman bambu atau daun kelapa untuk melindunginya dari sinar terik matahari dan air hujan. Jika naungan yang digunakan bukan paranet, pemasangannya harus dibuat condong ke arah barat agar bibit di persemaian cukup menerima sinar matahari pagi. Untuk itu, tiang naungan dibuat setinggi 120 cm di sebelah timur, dan 90-100 cm di sebelah barat. Naungan baru boleh dibuka setelah biji berkecambah tetapi bibit tetap harus disiram pada pagi atau sore hari. Lamanya perkecambahan biji di bedeng semai tergantung pada jenis tanamannya. Biji cabai atau tomat berkecambah 3-5 hari setelah semai. Biji tanaman buah seperti mangga atau durian, berkecambah 3-6 minggu setelah semai.
C.2. Penyemaian di Bedengan
Sebelum media dimasukkan, dasar wadah yang digunakan untuk menyemaikan biji harus diberi lubang, kecuali jika wadah yang digunakan berupa besek karena sudah memiliki lubang-lubang. Tujuannya melancarkan keluarnya air siraman sehingga tidak menggenang di dalam wadah. Setelah itu, wadah diisi dengan salah satu campuran media sebagai berikut berikut:
o Campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir atau sekam dengan perbandingan 1:1:1
o Campuran Spgagnum moss dan pasir dengan perbandingan 3:2
o Campuran pasir, pupuk kandang, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1
o Untuk menambah kesuburan, tiap 1 m3 campuran media tambahkan 2-3 kg TSP atau NPK yang telah dihaluskan, lalu disterilisasikan dengan menjemurnya selama 3-4 hari. Cara lain untuk mensterilkan media adalah dengan mengukusnya selama 30 menit pada suhu 750C atau bisa juga dengan menamburkan insektisida atau nematisida berbahan aktif carbofuran seperti Furadan, Curaterr, atau Petrofur dengan dosis sesuai dengan aturan yang tertera di label kemasan.
o Setelah wadah dan media semai telah siap, barulah biji disemai. Cara penanaman dan jumlah biji yang disemai tergantung pada wadah yang digunakan.
o Jika wadah yang digunakan adalah kotak kayu, biji cukup ditebar diatas permukaan media. Setelah itu, ditutup dengan lapisan tanah setebal 1 cm, lalu disiram sampai basah
o Jika wadah yang digunakan berupa wadah-wadah tunggal seperti polibag, besek, pot plastik atau gelas kemasan air mineral, biji dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 1-3 butir per wadah. Namun, jika semua biji berkecambah, hanya satu bibit terbaik yang dipelihara sampai siap dipindahkan ke media penyapihan atau ke lahan tanam sesungguhnya.
o Setelah itu, siram media semai sampai basah, lalu letakkan wadahnya di tempat terlindung. Misalnya, di bawah naungan pohon, di teras rumah atau dibuatkan naungan khusus dari paranet. Sementara itu, untuk menjaga agar media tetap lembab, permukaannya ditutup dengan kain dan disiram rutin dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Selain kain, penutup media berupa plastik dapat juga digunakan, tetapi harus dibuka terlebih dahulu saat melakukan penyiraman. Kain atau plastik penutup baru dilepas saat biji mulai berkecambah.
C.3. Penyemaian Menggunakan Coco Pot
Selain disemai menggunakan media tanah, biji dapat juga disemai di media non-tanah seperti coco pot atau rockwool. Biasanya media seperti ini dijual dalam kemasan tray, dan dilengkapi dengan pot-pot kecil sebagai wadahnya. Keuntungan memakai media ini adalah lebih praktis karena berukuran kecil, ringan serta lebih steril.
Sebelum digunakan, coco pot atau rockwool direndam terlebih dahulu di dalam air sampai mengembang lima kali lipat dari ketebalan awal. Biji yang disemai dimasukkan sebanyak 2-3 butir ke lubang yang tersedia di tengah media. Kemudian letakkan media ditempat yang teduh. Untuk menjaga lekembabannya, siram dua kali sehari pada pagi dan sore hari.
D. Penyapihan Bibit
Bibit yang tumbuh secara massal di bedeng semai biasanya tumbuh saling berdesakan karena rapatnya jarak penebaran biji. Oleh karena itu, sebagian bibit harus dipindahkan ke media penyapihan agr pertumbuhannya dapat berlangsung baik. Penyapihan juga dilakukan kepada bibit yang tumbuh di dalam wadah-wadah kecil atau media khusus non-tanah karena media ini tidak dapat menampung perakaran bibit yang terus berkembang.
Penyapihan bibit dilakukan di bedeng sapih atau di dalam polibag. Penyapihan di bedengan lebih cocok digunakan untuk bibit tanaman buah tahunan atau tanaman kehutanan. Sementara itu, bibit tanaman sayuran dan tanaman buah semusim seperti melon dan semangka lebih baik disampih di dalam polibag, karena hanya disapih selama 2-4 minggu sebelum tanam di lahan tanam. Media yang digunakan untuk penyapihan bibit adalah campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1:1:1.
Penyapihan dilakukan setelah bibit tumbuh setinggi 5-10 cm untuk tanaman berbiji kecil dan 15-20 cm untuk tanaman berbiji besar. Sebelum dipindahkan, lakukan penyeleksian bibit terlebih dahulu. Hanya bibit yang tumbuh subur dan kekar dengan perakaran lurus yang dipindahkan. Sementara itu, bibit yang tumbuh lambat, kerdil, tidak sehat dan perakarannya bengkok sebaiknya dibuang.
Pemindahan dilakukan dengan mengangkat bibit secara hati-hati dari persemaian beserta media yang ada di sekitar perakarannya. Usahakan tidak ada akar bibit yang putus atau rusak agar kondisinya tetap baik saat ditanam di media sapih. Untuk bibit yang tumbuh di bedeng semai tidak perlu dipindahkan semuanya, hanya untuk penjarangan. Sementara itu, sisanya tetap dibiarkan tumbuh di bedeng semai dan disampih sampai cukup besar untuk disambung, diokulasi, atau ditanam di lahan. Bibit yang tumbuh secara individual di dalam polibag tidak perlu dipindahkan sampai siap tanam di lahan. Bahkan , jika dijadikan batang bawah, penyambungan atau penempelan batas atas dapat dilakukan saat bibit masih berada di dalam polibag.
Sementara itu, untuk bibit yang tumbuh di gelas kemasan air mineral, wadahnya harus dilepas terlebih dahulu sebelum bibit ditanam di media penyapihan. Lakukan dengan hati-hati agar bola akar tidak terbongkar dan perakaran tidak terputus. Caranya dengan meremas-remas secara berlahan bagian luar wadah sampai media yang menempel di wadah terlepas. Kemudian, selipkan bagian batang bibit diantaranya jari telunjuk dan jari tengah tangan, lalu balikkan posisi wadah ke arah bawah, dan tarik ke atas secara perlahan sampai terlepas dari bola akar. Sementara itu, jika disemai menggunakan media tanam coco pot atau rockwool, bibit diangkat beserta medianya lalu pindahkan ke media penyapihan. Berikut ini langkah-langkah melakukan penyapihan.
1. PENYAPIHAN DI BEDENGAN.
Bedeng sapih dibuat sama dengan bedeng semai berukuran lebar 100 cm dan tinggi 30 cm. Namun di bedeng sapih dibuatkan lubang-lubang tanam sedalam 10 cm dengan jarak 75 x 75 cm. Jarak tanam ini sudah cukup untuk menjamin tumbuhnya bibit sehingga tidak saling bersentuhan sampai berumur 1-2 tahun.
Bibit yang telah diseleksi dari persemaian ditanam sebatas leher akar, lalu lubang tanam ditutup dengan lapisan tanah dan dipadatkan agar akar bibit dapat menyatu dengan tanah bedengan. Setelah itu, siram bedengan secukupnya, jangan terlalu basah atau air siraman jangan sampai menggenang.
Untuk melindungi bibit dari sengatan sinar matahari, beri naungan setinggi 180 cm di sebelah timur, dan 120 cm di sebelah barat. Awalnya naungan dibuat rapat agar intensitas cahaya matahari yang masuk hanya sekitar 50%. Namun seiring dengan perkembangan bibit, perlahan-lahan kerapatan naungan dikurangi sampai akhirnya dibuka seluruhnya.
Beri pupuk kandang setiap 2-3 bulan sekali agar pertumbuhan bibit semakin cepat. Selain ituk, setiap 1-2 bulan sekali tambahkan 100-150 gr NPK 15-15-15 ditambah 100 gr urea per bibit, atau campuran 50-100 gr urea, 200-40 gr SP-36 dan 50-70 gr KCl per bibit. Untuk mengatasi hama dan penyakit, semprotkan insektisida seperti Curacron, Pegasus atau Decis serta fungisida seperti Antracol, dan Dithane dengan dosis sesuai dengan aturan pakai yang ada dikemasannya.
Saat sudah besar, bibit di bedeng sapih dapat ditanam di lahan atau di pot permanen untuk pembesaran. Pemindahannya harus dilakukan secara hati-hati agar akar bibit tidak rusak atau terputus. Oleh karena itu bola akarnya tidak langsung dicabut tetapi digali secara bertahap. Caranya, gali media di setengah lingkaran bola akar sebelah kiri, baru setelah itu gali media di setengah lingkaran bola akar sebelah kanan. Setelah itu, angkat bibit dan bungkus bola akarnya dengan karung plastik agar tidak pecah.
Untuk bibit yang dijadikan batang bawah, penyambungan atau okulasi dengan batang atas dapat dilakukan di bedeng sapih. Umur batang bawah siap sambung bervariasi antara 1-24 bulan, tergantung pada jenis tanamannya. Sebagai contoh, jeruk dapat diokulasi saat berumur 1 bulan; mangga, durian dan advocad dapat disambung sejak usia 2-3 bulan. Sementara itu, manggis baru dapat disambung saat berumur 24 bulan.
2. PENYAPIHAN DALAM POLIBAG
Penyapihan ini paling baik dilakukan karena memudahkan proses pemindahan bibit ke lahan pembesaran atau saat pengangkutan. Ukuran polibag yang digunakan sebagai wadah menyapih bervariasi tergantung pada jenis tanamannya. Untuk bibit sayuran dan buah-buahan semusim, digunakan polibag berukuran 10 x 15 cm. Sementara itu, untuk bibit tanaman buah tahunan digunakan polibag yang lebih besar; berukuran 15 x 20 cm, 15 x 30 cm atau 20 x 30 cm. Proses penyambungan atau okulasi tersebut dilakukan di dalam polibag sehingga bibit harus tetap berada di polibag dalam waktu cukup lama, 1-2 tahun.
Sebelum digunakan, 2/3 bagian polibag diisi dengan media, lalu dibuat lubang tanam tepat di tengah media. Bibit ditanam sebatas leher akar. Jika akar tunggang bibit terlalu panjang, potong terlebih dahulu agar sesuai dengan ukuran polibag. Kemudian, tutup lubang tanam dengan sisa media dan padatkan agar bibit dapat berdiri tegak.
Selama penyapihan, bibit disiram rutin dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Penyiraman sebaiknya dilakukan menggunakan gembor atau gayung yang cucuran airnya dihambat dengan telapak tangan agar media tidak terbongkar atau terbawa air siraman. Satu bulan sekali bibit diberi pupuk daun dengan kandungan N tinggi seperti Bayfolan, Gandapan Maxima, Gandasil D, Growmore atau Hyponex Hijau dengan dosis satu sendok per bibit. Untuk mengatasi hama dan penyakit, semprotkan insektisida seperti Curacron, Pegasus, atau Decis serta fungisida seperti Antracol dan Dithane dengan dosis sesuai dengan aturan pakai di kemasannya.
Sumber :
Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. Cet. Ke-3 2008.
[]








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.