Penggolongan Pestisida

1 01 2009

PENDAHULUAN

Kata insektisida secara harfiah berarti pembunuh serangga, yang berasal dari kata Insekta = serangga dan kata latin cida= pembunuh. Pestisida adalah pembunuh hama yang berasal dari kata pest = hama dan cida = pembunuh. Insektisida merupakan salah satu kelompok pestisida, sedangkan kelompok pestisida lainnya antara lain rodentisida, akarisida, fungisida, herbisida dan lain-lain. Dalam penggunaannya di bidang pengendalian hama bila digunakan istilah pestisida sering yang dimaksud adalah insektisida. Meskipun ada alat-alat yang dapat kita gunakan untuk membunuh serangga seperti alat pemukul namun alat tersebut tidak kita namakan pestisida karena yang diartikan pestisida disini adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh hama.

Cara pemberian nama untuk suatu jenis pestisida ada ketentuannya yang perlu kita ikuti. Pestisida ditandai oleh 3 nama penamaan yaitu NAMA UMUM, NAMA DAGANG dan NAMA KIMIAWI. Nama Umum pestisida mula-mula diusulkan oleh organisasi profesi seperti Entomological Societyof America dan kemudian disetujui oleh Lembaga Internasional seperti The American National Standard Institute atau The International Organization for Standarization. Sedangkan Nama Dagang ditetapkan oleh produsen atau formulator pestisida yang membuat dan memperdagangkan pestisida tersebut. Karena satu jenis pestisida dapat dibuat oleh beberapa perusahaan didapatkan beberapa nama dagang. Nama Kimia merupakan nama yang digunakan oleh ahli kimia dalam menjelaskan suatu senyawa kimia sesuai dengan rumus bangun senyawa pestisida tersebut.

Contoh :

Nama Umum : Karbofuran

Nama Dagang : Furadan, Curraterr, Indofur, Dharmafur dan lain-lain

Nama Kimia : 2,3 –dihidro 2,2,-dimetil-7-benzoil metilkarbamat

PENGGOLONGAN PESTISIDA

MENURUT CARA MASUK KE TUBUH HAMA

Penggolongan pestisida menurut cara masuknya ke tubuh hama dapat terbagi menjadi

A. RACUN PERUT

Pestisida memasuki tubuh hama melalui saluran pencernaan (perut). Hama terbunuh bila pestisida tersebut termakan oleh hama. Pestisida lama umumnya merupakan racun perut, sedangkan pestisida modern sangat sedikit yang merupakan racun perut. Namun ada juga pestisida modern yang aksinya pada serangga melalui perut yaitu kelompok Insektisida Sistemik. Insektisida ini diserap oleh tanaman dan ditranslokasikan dalam jaringan tanaman. Serangga yang menghisap cairan tanaman yang sudah mengandung insektisida akan mati. Oleh karena insektisida sistemik juga memiliki sifat racun perut maka dapat dimasukkan dalam kelompok racun perut. Biasanya insektisida sistemik tidak dimasukkan dalam racun perut.

B. RACUN KONTAK

Pestisida memasuki tubuh serangga bila serangga mengadakan kontak dengan insektisida atau serangga berjalan diatas permukaan yang telah disemprot pestisida. Disini pestisida masuk ke dalam tubuh serangga melalui dinding tubuh. Insektisida modern pada umumnya merupakan racun kontak.

C. FUMIGAN

Fumigan merupakan insektisida yang mudah menguap menjadi gas dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan atau sistem trakea yang kemudian diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Karena sifatnya yang mudah menguap fumigan biasanya digunakan untuk mengendalikan hama gudang/simpanan yang berada di ruang atau tempat tertutup dan juga untuk mengendalikan hama yang berada di dalam tanah.

MENURUT SIFAT KIMIANYA

Insektisida dapat kita bagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam Insektisida Anorganik yang tidak mengandung unsur karbon dan Insektisida Organik yang mengandung unsur karbon. Insektisida lama yang digunakan sebelum tahu 1945 umumnya merupakan insektisida anorganik sedangkan insektisida modern setelah DDT ditemukan umumnya merupakan insektisida organik. Insektisida organik masih dapat dibagi menjadi insektisida organik alami dan insektisida organik sintetik. Insektisida organik alami merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman (insektisida botanik) dan bahan alami lainnya. Sedangkan insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. Insektisida modern pada umumnya merupakan insektisida organik sintetik.

Pembagian menurut sifat kimia yang lebih tepat adalah menurut komposisi atau susunan senyawa kimianya. Pembagian insektisida organik sintetik menurut susunan kimia bahan aktif (senyawa yang memiliki sifat racun) terdiri dari 4 kelompok besar yaitu Organoklorin (OC), Organophosphat (OP), Karbamat, dan Pirethroid Sintetik (SP). Kecuali 4 kelompok besar tersebut masih ada beberapa kelompok insektisida yang kurang banyak digunakan dalam praktek pengendalian hama.

1. ORGANOKLORIN

Organoklorin atau sering disebut Hidrokarbon Klor merupakan kelompok insektisida sintetik yang pertama dan paling tua dan dimulai dengan ditemukannya DDT oleh Paul Mueller (Swiss) pada tahun 1940-an. DDT dalam sejarah kemanusiaan menjadi insektisida yang paling kontroversial karena di satu pihak merupakan insektisida sintetik pertama yang diproduksi besar-besaran dan jasanya sangat besar bagi kemanusiaan. PM Churchill pernah menyebut DDT sebagai “Serbuk Ajaib”. Di sisi lain karena dampaknya yang membahayakan kepada lingkungan hidup, Rachel Carson pada tahun 1962 menyebut DDT sebagai “Minuman Kematian”.

Setelah DDT, kemudian berhasil dikembangkan banyak jenis insektisida yang mirip dengan DDT dan kemudian dikelompokkan dalam golongan Hidrokarbon Klor. Semua insektisida dalam kelompok ini mengandung Klorin, Hidrogen dan Karbon. Kadang-kadang ada juga yang mengandung Oksigen dan Sulfur.

Insektisida OC merupakan racun kontak dan racun perut, efektif untuk mengendalikan larva, nimfa dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. Cara kerja (Mode of Action) OC belum diketahui secara lengkap. Secara umum dapat dikatakan bahwa keracunan serangga oleh insektisida tersebut ditandai dengan terjadinya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas, gemetaran, kejang-kejang dan akhirnya terjadi kerusakan syaraf dan otot serta kematian.

Insektisida golongan OC pada umumnya memiliki toksisitas ‘sedang” untuk mamalia. Masalah yang paling merugikan bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah sifat persistensinya yang sangat lama di lingkungan baik di tanah maupun di dalam jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. Misalnya DDT di daerah Subtropis dalam kurun waktu 17 tahun residunya masih 39% di dalam tanah, sedangkan residu Endrin setelah 14 tahun masih dijumpai 40%. Persistensi OC di lingkungan menimbulkan dampak negatif seperti perbesaran hayati dan masalah keracunan kronik yang membahayakan kesehatan masyarakat. Masalah lain yang timbul adalah berkembangnya sifat resistensi serangga hama sasaran seperti nyamuk dan lalat terhadap DDT.

Oleh karena bahayanya Insektisida golongan Organoklorin sejak tahun 1973 dilarang penggunaannya untuk hama pertanian di Indonesia kecuali Endosulfan dan Dieldrin yang diijinkan secara terbatas untuk pengendalian rayap, namun sayangnya penggunaan DDT untuk sektor kesehatan masih dianjurkan secara terbatas sampai akhir tahun 1991.

Kelompok Organoklorin masih dapat dibagi menjadi 3 subkelompok yaitu, pertama DDT dan senyawa dekatnya seperti Metoksiklor, Dikofol, BHC, atau HCH; kedua adalah Siklodien yang terdiri dari Aldrin, Endrin, Dieldrin, Klordan, Heptaklor dan Endosulfan. Ketiga, adalah terpene Klor seperti Toksafena.

2. ORGANOPHOSPHAT (OP)

Insektisida OP dengan unsur P sebagai inti yang aktif saat ini merupakan kelompok insektisida yang terbesar dan sangat bervariasi jenis dan sifatnya. Saat ini telah tercatat sekitar 200 ribu senyawa OP yang pernah dicoba dan diuji untuk mengendalikan serangga.

OP merupakan insektisida yang sangat beracun bagi serangga dan bersifat baik sebagai racun kontak, racun perut maupun fumigan. Berbeda dengan OC, senyawa OP di lingkungan kurang stabil sehingga lebih cepat terdegredasi dalam senyawa-senyawa yang tidak beracun. Daya racun OP mampu menurunkan populasi serangga dh cepat, persistensinya di lingkungan sedang sehingga OP secara bertahap dapat menggantikan insektisida OC. Sampai saat ini OP masih merupakan kelompok insektisida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.

Kebanyakan insektisida OP adalah penghambat bekerjanya enzim asetilkolinesterase. Kita ketahui bahwa dalam sistem syaraf serangga antara sel syaraf atau neuron dengan sel-sel lain termasuk sel otot terdapat “celah” yang disebut Sinapse. Enzim Asetilkolin yang dibentuk oleh sistem syaraf pusat berfungsi untuk mengantarkan pesan atau impuls dari sel syaraf ke sel otot melalui sinapse. Setelah impuls diantarkan ke sel-sel otot proses penghantaran impuls tersebut dihentikan oleh karena bekerjanya enzim lain yaitu enzim asetilkolinestarase. Dengan enzim tersebut asetilkolin dipecah menjadi asam asetat dan kolin. Adanya asetilcolin-esterase menyebabkan sinapse menjadi kosong lagi sehingga pengantaran impuls berikutnya dapat dilakukan.

Insektisida OP menghambat bekerjanya enzim asetilkolinesterase yang berakibat terjadi penumpukan asetilkolin dan terjadilah kekacauan pada sistem penghantaran inpuls ke sel-sel otot. Keadaan ini menyebabkan pesan-pesan berikutnya tidak dapat diteruskan, otot kejang dan akhirnya terjadi kelumpuhan (paralisis) dan kematian.

OP memiliki berbagai bentuk alkohol yang melekat pada atom-atom P dan berbagai bentuk ester asam fosforik. Ester-ester ini mempunyai kombinasi oksigen, karbon, sulfur dan Nitrogen. OP yang dikembangkan dari kombinasi ini dapat dibagi menjadi 3 kelompok derivat yaitu : Alifatik, Fenil, dan Heterosiklik.

Derivat Alifatik strukturnya ditandai oleh senyawa dengan rantai karbon yang lurus dan tidak berbentuk cincin. Derivat Alifatik meliputi insektisida-insektisida antara lain TEPP, Malathion, Dimetoat, Dikrotofos, Mitamidofos, Asefat, dan lain-lain.

Derivat Fenil terlihat dari adanya cincin-cincin fenil dimana salah satu H ditempati oleh “moiety” P sedangkan lainnya (satu atau lebih) diganti oleh CH3, Cl, CN, NO2 atau S. Stabilitas derivat ini lebih besar daripada derivat Alifatik sehingga residunya dapat lebih lama di lingkungan. Insektisida OP yang termasuk derivat fenil adalah Metil Parathion, Paration, Fention, Fonofos, dan lain-lain.

Derivat Heterosiklik seperti fenil mereka memiliki bangunan rantai tetapi perbedaannya satu atau beberapa atom C ditempati oleh O, N atau S. Juga bangunan rantai dari kelompok ini mempunyai 3,5 atau 6 atom. Senyawa-senyawa kelompok ini paling stabil dan lama bertahan di lingkungan. Yang termasuk derivat ini antara lain Klorpirifos, Fention, Temephos, metidation dan lain-lain.

3. CARBAMAT

Karbamat merupakan insektisida yang berspektrum lebar dan telah banyak digunakan secara luas untuk pengendalian hama. Golongan ini relatif baru jika dibandingkan 2 kelompok pestisida sebelumnya (OC dan OP). Semua insektisida Karbamat mempunyai bangunan dasar asam karbamat. Cara karbamat mematikan serangga sama dengan golongan OP yaitu melalui penghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf. Perbedaannya bahwa pada karbamat penghambatan enzim kolinesterase-nya bersifat bolak-balik (resersible) sedangkan pada OP tidak bolak balik. Insektisida tersebut cepat terurai dan hilang daya racunnya dari tubuh binatang sehingga tidak terakumulasi dalam jaringan lemak atau susu seperti OC. Beberapa karbamat memiliki toksisitas rendah bagi mamalia tetapi ada yang sangat beracun.

Contoh insektisida golongan karbamat adalah Aldikarb, Metiokarb, Metomil, Propoxur, dan lain-lain.

4. PIRETROID SINTETIK (SP)

Piretroid merupakan kelompok insektisida organik sintetik konvensional yang paling baru, digunakan secara luas sejak tahun 1970-an dan saat ini perkembangannya sangat cepat. Keunggulan SP karena memiliki pengaruh “knock down” atau mematikan serangga dengan cepat. Tingkat toksisitas rendah bagi manusia.

Kelompok SP merupakan tiruan dari bahan aktif insektisida botani Piretrum yaitu Sinerin I yang berasal dari bunga Chrysanthenum cinerariaefolium. Sebagai insektisida botani piretrum memiliki keunggulan yaitu daya knockdown yang tinggi tetapi sayangnya di lingkungan bahan alami ini tidak bertahan lama karena mudah terurai oleh sinar ultraviolet. Kecuali itu penggunaan di lapangan kurang praktis dan mahal karena piretrum harus dahulu diekstrasi dari bunga chrisantenum. Dari rangkaian penelitian kimiawi dengan melakukan sintesis terhadap susunan kimia piretrum dapat diperoleh bahan kimiawi yang memiliki sifat insektisidal mirip dengan piretrum dan bahan tersebut mempunyai kemampuan untuk bertahan lebih lama di lingkungan serta dapat diproduksi di pabrik. Jenis pestisida buatan yang mirip piretrum diberi nama pirethrin yang kemudian menjadi modal dasar bagi pengembangan insektisida golongan SP lainnya.

Insektisida SP seringkali dikelompokkan menurut generasi perkembangannya di laboratorium. Biasanya, generasi yang lanjut merupakan perbaikan sifat SP generasi sebelumnya. Sasaran perkembangan SP kecuali sifat-sifat yang disebutkan diatas juga mencari dosis aplikasi yang sekecil mungkin dengan kemampuan mematikan serangga hama setinggi mungkin sehingga diperoleh efisiensi ekonomis yang tinggi. Sampai saat ini sudah dikenal 4 generasi SP. Salah satu anggota generasi pertama adalah Allethrin. Generasi kedua adalah Resmethrin. Generasi ketiga adalah Fenvalerate dan Permethrin. Generasi keempat adalah cypermethrin, fluvalinat dan Deltamethrin dan lain-lain.

Meskipun daya mematikan SP sangat tinggi dan sangat sedikit menghadapi permasalahan lingkungan, namun pestisida ini menghadapi masalah utama yaitu percepatan perkembangan strain hama baru yang tahan terhadap insektisida SP.

5. FUMIGAN

Fumigan sangat mudah menguap, kebanyakan mengandung satu atau lebih gas halogen yaitu Cl, Br dan F. Banyak yang sangat beracun bagi serangga hama sehingga dapat membunuh serangga di ruang tertutup. Oleh karena itu fumigan banyak digunakan untuk mengendalikan hama simpanan/gudang, hama rumah kaca, dan rayap. Beberapa fumigan juga digunakan untuk perlakuan tanah.

Beberapa contoh fumigan antara lain : CH3Br, Kloropikrin, Naftalena, dan lain-lain.

6. MINYAK

Minyak tanah sejak abad ke 18 telah digunakan untuk mengendalikan serangga yang merugikan manusia antara lain untuk nyamuk dan hama buah-buahan. Masalah utama yang dihadapi dalam penggunaan minyak tanah adalah fitotoksisitasnya yang tinggi. Oleh karena itu sebelum digunakan minyak tanah harus disuling lebih dahulu dengan tehnik tertentu. Minyak tanah yang telah disuling efektif untuk pengendalian tungau, aphid dan kutu-kutu tanaman.

7. INSEKTISIDA LAIN

Masih banyak kelompok insektisida lain di luar yang telah disebutkan sebelumnya seperti Formamidin, Tiosianat, Organotin dan lain-lain. Termasuk dalam kelompok ini adalah pestisida Anorganik yang sudah lama tidak digunakan lagi setelah adanya insektisida organik sintetik. Termasuk dalam Anorganik adalah Kalium Arsenat, Pb Arsenat, Kriolid dan Belerang. Umumnya pestisida tersebut adalah racun perut. Kelemahan pestisida anorganik adalah toksisitas tinggi untuk mamalia termasuk manusia, residu di lingkungan persisten, ftotoksisitas tinggi, masalah ketahanan hama terhadap insektisida dan efisikasinya lebih rendah bila dibandingkan insektisida organik sintetik.

FORMULASI PESTISIDA

Bahan aktif insektisida merupakan bahan penyusun terpenting, suatu formulasi pestisida untuk dipasarkan tidak diproduksikan oleh pabrik dalam bentuk murni. Bahan aktif murni hanya dibuat khusus untuk keperluan penelitian atau pengawasan mutu formulasi insektisida. Pada tingkat permulaan produksi insektisida lebih dahulu dibuat apa yang disebut bahan aktif teknis. Bahan ini merupakan campuran bahan aktif murni dan bahan antara lainnya. Agar bahan aktif teknis tersebut dapat lebih efektif dan efisien dalam mengendalikan hama sasaran yang tempat hidup dan cara hidupnya bervariasi sebelum dipasarkan, bahan teknis tersebut lebih dahulu dicampur dengan bahan penguat (sinergis) dan bahan pembantu (ajuvan). Bahan-bahan tambahan yang tidak bersifat insektisidal tersebut secara umum sering disebut inert ingredient. Pemberian bahan-bahan pembantu dapat meningkatkan adhesi atau pelekatan, pencampuran, tekanan permukaan, persistensi di lingkungan dan sebagai pembawa insektisida.

Sinergis merupakan bahan yang tidak beracun bagi serangga namun bila bahan tersebut dicampurkan dapat menambah toksisitas insektisida. Biasanya campuran tersebut berbanding 10:1 atau 8:1 antara sinergis dan insektisida. Beberapa sinergis adalah piperonil butoksid dan MGK 264.

Bahan pembantu atau Ajuvan ada bermacam-macam diberikan antara lain : a) Solvent untuk meningkatkan daya larut; b) Diluent sebagai bahan pembawa dan daya “penyelimutan”; c) Stiker untuk meningkatkan daya lekat; d) Surfactant untuk meningkatkan daya sebar dan pembasahan permukaan, dan; e) Deodoran untuk memberikan bau harum.

Campuran bahan aktif teknis, sinergis dan bahan pembantu disebut formulasi pestisida. Ada produsen pestisida yang menghasilkan bahan aktif teknis insektisida tertentu, tetapi ada banyak produsen pestisida yang membeli bahan aktif teknis dari suatu perusahaan dan menambah dengan bahan-bahan pembantu tertentu yang kemudian dipasarkan sebagai formulasi pestisida dengan nama dagang tertentu. Oleh karena itu untuk satu jenis bahan aktif di pasar terdapat banyak formulasi dengan nama dagang yang berbeda. Perbedaan antara beberapa formulasi untuk jenis bahan aktif yang sama dapat disebabkan pada perbedaa dalam susunan bahan tambahan dan bahan pembantu dan juga pada susunan bahan pembentuk bahan aktif teknis. Secara umum ada banyak sekali jenis formulasi pestisida telah dikembangkan untuk kepentingan pemakai dan telah tersedia di pasar.

a) Emulsifiable Concentrate (EC

EC merupakan formulasi insektisida yang paling umum dan banyak diproduksi. Formulasi ini terdiri dari aktif teknis, cairan pelarut untuk bahan aktif dan perantara emulsi (“Emulsifier”). Suatu emulsi minyak-dalam air- terbentuk bila formulasi ini dicampur dengan air sehingga terbentuk cairan seperti susu. Emulsifier memungkinkan melarutkan bahan kimia yang sukar larut dalam air. Juga bahan ini mengurangi tekanan permukaan dari semprotan sehingga dapat lebih menyebar dan membasahi permukaan yang disemprot. Zat ini pula yang memungkinkan kontak yang lebih baik dengan kutikula serangga.

b) Wettable Powders (WP)

WP atau tepung basah merupakan formulasi yang umum digunakan setelah EC. WP merupakan formulasi pestisida kering yang agak pekat yang ditujukan agar dapat larut dan diencerkan dalam air untuk disemprotkan. Suatu partikel suspensi terbentuk apabila dicampurkan dengan air. Hal ini dapat diperoleh dengan menambahkan surfaktan sebagai bahan penyebar dan pembasah. Dibandingkan dengan EC, WP mempunyai toksisitas pada tanaman yang lebih rendah, tetapi sayangnya WP kurang baik untuk alat penyemprot sehingga alat menjadi kurang awet, sering macet pada nozzle sehingga sewaktu disemprotkan harus sering dilakukan pengadukan.

c) Flowable Powder

pada beberapa keadaan senyawa insektisida hanya dapat dibuat dalam bentuk padat atau semi padat. Untuk menambahkan keuntungan sifat pencampuran formulasi EC dan larutan senyawa yang padat tersebut kemudian digiling secara basah dengan diluen lempung dan air, sehingga diperoleh bahan teknis yang tergiling halus dan basah sehingga bentuknya seperti puding. Formulasi ini kemudian dapat dicampur dengan air sehingga dapat disemprotkan. Karena keadaannya yang demikian formulasi F dalam penggunaannya harus selalu diaduk agar insektisida tidak keluar dari suspensi dan mengendap pada dasar tangki penyemprot.

d) Soluble Powder

Berbeda dengan formulasi WP, SP dapat larut dalam air membentuk suatu larutan yang sesungguhnya. Formulasi ini berupa bubuk kering yang dapat larut dan mengandung 75-95% bahan aktif. Bahan inert berupa adjuvant untuk menyebarkan dan melekatkan insektisida pada permukaan tanaman. Pengadukan mula-mula diperlukan tetapi setelah terjadi larutan pengadukan tidak diperlukan lagi. Relatif hanya sedikit macam insektisida yang dapat diformulasikan dengan cara ini.

e) Solution

Formulasi S atau larutan dibuat dengan melarutkan insektisida pada zat pelarut organik untuk dapat digunakan secara langsung bagi pengendalian hama. Formulasi ini jarang digunakan pada tanaman karena dapat menyebabkan fitotoksisitas yang gawat. Penggunaannya sering untuk pengendalian serangga-serangga yang menyerang ternak dan pengendalian jentik-jentik nyamuk yang ada pada permukaan air. Suatu jenis khusus suatu formulasi larutan yang berkonsentrasi tinggi yang saat ini sering digunakan pada daerah-daerah yang sering kesulitan air adalah formulasi ULV (Ultra Low Volume). Formulasi ULV disemprotkan langsung tanpa memerlukan air tetapi memerlukan alat penyemprot khusus seperti “mikron air” yang dapat menghasilkan butiran semprot yang sangat lembut. Apabila kondisi cuaca memungkinkan (kecepatan angin rendah) dan cara penyemprotannya benar, maka penyemprotan dengan ULV sangat ekonomis karena selain menghemat air juga jumlah insektisida yang digunakan lebih sedikit bila dibandingkan dengan formulasi EC. Formulasi ULV di Indonesia telah lama digunakan di program IKR (Intensifikasi Kapas Rakyat) dengan alasan umumnya daerah pertanaman kapas merupakan daerah yang kering.

f) Dust (D)

Formulasi dust atau debu merupakan formulasi insektisida yang paling tua dan sederhana. Formulasi tersebut diperoleh dengan menggiling toksikan atau insektisida menjadi serbuk yang halus kemudian dicampur dengan bahan organik seperti tepung tempurung tanaman wallnut, bubukan mineral profilit, bentonik dan talk. Persentase bahan aktif insektisida biasanya berkisar antara 1-10%. Formulasi dust mungkin aplikasinya yang paling mudah, cukup dengan alat “duster” yang sederhana hingga insektisida dapat dikenakan pada tanaman. Tetapi formulasi ini merupakan formulasi yang paling tidak efektif dan tidak ekonomis terutama bila digunakan di luar karena banyak yang terhembus oleh angin (“drift”) sehingga sangat sedikit yang mengenai sasaran. Kelemahan yang lain bahwa formulasi ini berbahaya bagi lebah madu dan imago parasitoid yang termasuk hymenoptera sehingga prospek penggunaannya untuk PHT kurang baik.

g) Granules (G)

Formulasi granule atau butiran ini dibuat dengan memberikan insektisida cair pada partikel-partikel kasar dari bahan yang mudah menyerap. Partikel-partikel ini dapat dibentuk dari tongkol jagung, tempurung tanaman wallnut, lempung atau bahan lainnya. Insektisida diserap kedalam butiran dan kemudian di sebelah luar ditutup oleh suatu lapisan. Kandungan bahan aktif antara 2% sampai 40%. Karena ukuran butiran lebih besar daripada dust maka formulasi G lebih aman bagi pemakai dibanding formulasi D atau EC karena mengurangi kemungkinan dihirup. Penggunaannya di lapangan adalah dengan menyebarkan di sekitar tanaman atau membenamkan ke dalam tanah di sekitar pangkal tanaman. Oleh karena itu formulasi G paling banyak digunakan untuk mengendalikan hama-hama di tanah atau untuk aplikasi insektisida sistemik seperti Karbofuran 3G untuk pengendalian hama penggerek batang padi.

h) Aerosol

Aerosol merupakan formulasi yang paling sering digunakan untuk insektisida yang digunakan dalam rumah tangga, di pekarangan, atau di dalam rumah kaca. Dalam pembuatan formulasi ini insektisida lebih dahulu dilarutkan dalam zat pelarut berupa minyak yang menguap. Larutan ini kemudian diberi tekanan udara dalam kaleng dengan gas propelan seperti karbondioksida atau fluorokarbon. Apabila disemprotkan larutan akan menjadi partikel-partikel yang sangat kecil dan secara cepat menguap meninggalkan droplet-droplet mikroskopik di udara. Meskipun penggunaannya praktis namun karena aerosol hanya memiliki prosentase bahan aktif insektisida yang sangat rendah, harganya relatif sangat mahal.

i) Poisonous Baits (B)

Formulasi B atau umpan beracun menggabungkan bahan yang dapat dimakan hama atau yang menarik hama dengan insektisida agar meningkatkan efektivitas perlakuan. Jenis umpan sangat bervariasi tergantung pada renspos hama terhadap umpan.

j) Slow Release Formulations (SR)

Dalam pemakaian berbagai formulasi insektisida umumnya efektivitasnya berjangka pendek sehingga agar diperoleh hasil pengendalian yang optimal perlu diadakan perlakuan insektisida beberapa kali dalam satu musim tanam yang dapat meningkatkan biaya pengendalian. Muncullah keinginan untuk memperoleh formulasi yang memungkinkan pengaruh insektisida dapat diperpanjang dan tidak sering diadakan pengulangan perlakuan agar dapat lebih menghemat biaya. Saat ini telah dapat diproduksikan berbagai bentuk formulasi SR seperti “Kepingan Lalat” atau Fly Strip, Kerah Kutu Anjing, atau Flea Collars. Bentuk SR lain adalah mikroencapsulasi insektisida. Contohnya mikroencapsulasi methyl paration. Disini insektisida diselimuti oleh kapsul yang mempunyai lubang-lubang mikroskopis sehingga insektisida keluar dari kapsul secara berlahan-lahan. Dengan menggunakan formulasi tersebut diharapkan petani dapat mengurangi jumlah aplikasi, tidak harus tepat dalam menetapkan waktu pengendalian, dan mengurangi bahaya bagi pekerja. Tetapi jenis formulasi ini sebaliknya akan memperpanjang acanaman dan bahaya bagi serangga yang bermanfaat seperti lebah madu dan imago parasitoid dan predator.

Disalin dari Pengantar Pengelolaan hama terpadu oleh Kasumbogo Untung, Gajah Mada University Press

[]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: