Pestisida dan Enzim Colinestarase

1 01 2009

ENZIM COLIN-ESTARASE

Di dalam dunia pest control, kita tidak asing lagi dengan suatu senyawa kimia yang dinamakan pestisida. Salah satu definisi pestisida adalah semua bahan kimiaatau zat lain yang dipergunakan untuk mengendalikan hewan-hewan yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia atau komoditas komoditas yang dihasilkan dari sector pertanian.

Pada awalnya pestisida dianggap sangat menguntungkan bagi kehidupan manusia karena beberapa kelebihannya seperti dapat menurunkan populasi hama secara cepat, mudah dalam penggunaannya, dan secara ekonomis sangat menguntungkan. Akan tetapi, penggunaan pestisida memiliki beberapa dampak negative seperti merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia/aplikator. Menurut WHO, setidaknya 20.000 orang per tahun mati karena terpapar oleh pestisida.

Salah satu factor mengapa pestisida berbahaya bagi kesehatan manusia/aplikator di lapangan adalah adanya keterkaitan antara cara kerja pestisida (golongan Organophospat dan Carbamat) dengan enzim colinestarase yang terdapat di dalam system syaraf manusia.

System syaraf pada serangga atau manusia terdiri dari sel syaraf atau neuron, sel otot, dan sel lainnya. Sel otot pada syaraf manusia atau serangga mempunyai “celah” yang disebut “Synapse”. Enzim Asetilkolin yang dibentuk oleh system syaraf pusat berfungsi untuk menghantarkan pesan atau impuls dari sel syaraf ke sel otot melalui synapse. Setelah impuls dihantarkan ke sel-sel otot, proses penghantaran impuls tersebut dihentikan oleh bekerjanya enzim asetilcolinestarase, dimana dengan enzim ini asetilkolin dipecah menjadi asam asetat dan kolin. Dengan adanya asetilcolinestarase menyebabkan synapse menjadi kosong kembali sehingga penghantaran impuls berikutnya dapat dilakukan kembali.

Insektisida yang berasal dari golongan Organophospat dan Carbamat bekerja dengan cara menghambat bekerjanya enzim asetilcolinestarase yang berakibat terjadinya penumpukan asetilcolin dan terjadilah kekacauan pada system penghantaran impuls ke sel-sel otot. Keadaan ini menyebabkan pesan-pesan berikutnya tidak dapat diteruskan sehingga otot menjadi tegang dan akhirnya terjadilah kelumpuhan dan kematian.

Apabila seseorang terpapar/keracunan oleh insektisida dari golongan organophospat dan carbamat, maka tanda-tanda dari orang yang keracunan tersebut dibagi menjadi 3 bagian:

kasus ringan / terpapar dalam 4-24 jam

Gejala dari kasus ringan ini adalah badan lesu, lelah, pusing, mual dan pandangan kabur

B. Kasus sedang / terpapar dalam 4-24 jam

Gejala: sakit kepala, tubuh berkeringat, mata berair, muntah-muntah, pandangan menerawang

C. Kasus Berat/setelah terus-menerus terabsorbsi

Gejala: kram perut, buang air kecil secara terus menerus, diare, tremor, pupil mata mengecil, hipertensi, sulit bernafas dan terjadi kematian.

Terkadang gejala keracunan insektisida dari golongan organopospat dan carbamat hamper sama dengan orang yang mengalami sakit flu, Panas dingin, keracunan alcohol, kecapean, gula darah rendah dan asma. Oleh karena itu pengecekan kadar kolinestarase sangat diperlukan sebagai tanda awal dari orang yang terpapar pestisida sehingga akibat yang lebih serius dapat dihindari. Nilai normal untuk kadar kolin esterase di dalam darah baik untuk laki-laki maupun perempuan berada pada kisaran 4.300—10.500 KU/I, sehingga apabila kadar kolinestarase di dalam darah turun, maka disinyalir orang tersebut telah keracunan oleh insektisida baik dari golongan organophospat ataupun carbamat.

Didalam pengujiannya, pengecekan colinestarase terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

A. Kolinestarase Sel Darah Merah

Colinestarase sel darah merah digunakan untuk melihat kadar enzim asetilestarase di dalam syaraf.

B. Kolinestarase Plasma

Kolinestarase plasma digunakan untuk melihat kadar enzim asetilestarase di dalam hati.

Dengan mengetahui alangkah berbahayanya pestisida yang kita aplikasikan, maka terdapat beberapa hal yang harus kita perhatikan sebagai seorang aplikator pestisida, yaitu :

Pergunakan alat pelindung diri yang lengkap dan tepat

Periksa tanggal kadaluarsa dari cartridge yang digunakan (maksimal tiga bulan)

Periksa kebocoran masker, sarung tangan dengan melakukan uji kebocoran

Periksa kebersihan dari semua alat pelindung diri yang berhubungan atau kontak langsung dengan chemical seperti sarung tangan, safety shoes, dan seragam

Pastikan aplikator selalu mandi setelah bekerja

Dilarang makan, minum, dan merokok selama bekerja dengan menggunakan pestisida

Periksa cara membawa pestisida di dalam kendaraan (tidak boleh terdapat ceceran atau tumpahan)

Pastikan bahwa alat pelindung diri penempatannya terpisah dengan chemical.

Sumber :

http://worldwildlife.org

http://extonet.orst.edu/tibs/cholines.htm

Untung, K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gajah Mada University Press.

Published by Ardiant – 181 @ 2006/Pest Management.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: