Bercak Daun Si Perusak Kualitas Tembakau Cerutu

3 01 2009

Buat anda pemilik tembakau cerutu, waspadalah bila menemui gejala bercak-bercak coklat melingkar pada daunnya. Karena, bila hal itu dibiarkan tidak hanya kualitas daun saja yang rusak, namun juga bisa mengganggu proses foto sintesisnya sehingga tanaman tidak tumbuh optimal. Agar gejala awalnya diidentifikasi lebih awal, tidak ada salahnya kita mengenal lebih jauh penyakit tersebut

Penyakit Bopeng yang dikenal sebagai perusak penampilan ternyata tidak hanya menyerang manusia saja namun juga dapat menyerang tanaman terutama tem-bakau. Tentu saja penyebab, bentuk serta gejalanya antar kedua penyakit tersebut berlainan. Serangan pada daun tembakau tentu saja lebih parah karena selain mengganggu penampilan daun juga menyebabkan mutu tembakau menurun yang akibatnya tidak bisa dijual. Penyakit bopeng atau bercak daun atau patik yang menyerang tanaman tembakau ini disebabkan oleh jamur Cercospora nicotianae. Sebagai informasi, jamur Cercospora nicotianae ini telah menyebar dan terdapat di semua daerah penanaman tembakau di seluruh dunia. Jadi, resiko tanaman tembakau terserang penyakit bopeng cukup besar bila tidak dilakukan pencegahan dan pengendalian. Keberadaan jamur ini terutama sangat merugikan bila ada di daerah tropika yang cuacanya panas dan lembab. Penyakit ini pertama kali ditemukan dan dilaporkan oleh Ellis dan Everheart pada tahun 1893 di Carolina Utara. Kini penyakit tersebut telah menyebar ke berbagai sentra tanaman tembakau seiring dengan penyebaran tanaman tersebut.

Berbagai macam istilah yang digunakan untuk menamai penyakit tersebut. Di daerah Sumatra Utara, penyakit ini dikenal dengan bopeng dan bila tembakau tersebut telah sampai di gudang maka disebut dengan “bopeng hijau”. Orang Jawa menyebutnya Patik, orang Inggris menamakan Frogeye dan Orang Belanda menyebutnya Spikkel. Apapun itu namanya, tetaplah merujuk pada satu penyakit yaitu bercak daun pada daun tembakau.

Meskipun pada tembakau Virginia dan tembakau rajangan adanya penyakit tersebut pengaruhnya tidak terlalu besar pada mutu, namun lain halnya bila menyerang pada tembakau cerutu. Hal ini erat kaitannya dengan proses pembuatan cerutu yang memerlukan daun tembakau sebagai pembalut. Pembalut cerutu haruslah benar-benar berkualitas dalam arti tidak terdapat bercak-bercak, tidak berlubang maupun koyak, warna yang merata dan seragam (tidak belang-belang), tipis dan elastis. Sekitar tahun 1998, imbas penyakit bercak daun ini sangat terasa terutama bagi para petani yang menanam tembakau cerutu di daerah Sumatera dan Jawa, dimana akibat serangan penyakit tersebut cukup banyak daun tembakau yang dipanen/dihasilkan tidak diterima oleh pasar lokal maupun ekspor karena mutunya sangat jelek dan rusak.

Gejala

Tidak sulit bagi kita mengidentifikasi/mengenali ciri-ciri pada daun tanaman tembakau yang telah terkena penyakit ini. Daun yang sakit mempunyai bercak-bercak merah kecoklatan melingkar yang garis tengahnya dapat mencapai 2 – 15 mm. Mula-mula bercak berwarna coklat lalu menjadi kering dan berwarna putih dengan tepi coklat yang akhirnya bagian ini pecah dan berlubang. Bila kita perhati-kan lebih jauh pada te-ngah-te-ngah bercak tersebut akan terdapat titik-titik hitam yang sangat halus. Titik –titik tersebut merupakan kumpulan konidiofor jamur. Cercospora nicotianae ini ternyata dapat berkembang sejak di pembibitan, tanaman di lapangan bahkan setelah daun dipetik dan selama proses pengeringan daun di bangsal/gudang. Hal ini berarti jamur tersebut tidak hanya membahayakan tanaman tembakau pada fase tertentu saja, namun juga mulai pembibitan hingga pasca panen.

Bercak-bercak tersebut biasanya muncul pada daun-daun bawah atau daun tua dan daun-daun yang telah matang, karena daun-daun ini lebih rentan dari pada daun-daun yang masih muda. Meskipun demikian bila cuaca lembab dan kondisi alam mendukung untuk perkembangan jamur serta penyebaran penyakit sudah meluas, maka serangan bercak daun dapat terjadi juga pada daun yang masih muda. Warna bercak Cercospora ini pun tidak selalu coklat kemerahan saja karena seperti halnya Di Deli, daun tembakau yang terserang Cescospora yang gejalanya bercak putih juga menyebabkan penyakit bopeng. Bercak putih tersebut dinamakan bopeng putih.

Penyebaran penyakit ini sangat mudah. Sebagai contoh bila konidia Cercospora jatuh pada daun tembakau yang akan dipetik dan konidia ini melekat pada daun yang akan dibawa ke gudang, maka konidia tersebut masih mampu berkembang pada daun tembakau di dalam gudang. Udara diantara daun-daun yang lebab di gudang yang sangat lembab ini sangat cocok untuk perkembangan jamur, sehingga pada daun yang telah kering akan terbentuk bercak-bercak coklat kehijauan yang seringkali disebut “bercak gudang” atau “bopeng hijau”.

Penyakit bopeng ini dapat berkembang bila pemetikan daun terlambat dilakukan sehingga daun sudah dalam kondisi terlalu matang. Semakin tua daun maka semakin besar resikonya atau semakin rentan untuk diinfeksi oleh jamur Cercospora nicotianae. Penyakit bopeng akan sangat cepat meluas bila kondisi alam mendukung yaitu bila kelembaban udara di areal tanaman tembakau cukup tinggi hasilnya karena curah hujan dan suhu udara yang tinggi.

Jamur Cescospora nicotianae dalam klasifikasinya termasuk klas Hyphomycetes, Ordo : Miniliales, Famili : Moniliaceae, Genus : Cercospora dengan spesies Cescospora nicotianae. Jamur Cescospora nicotianae mempunyai konidiofor berwarna coklat yang bersekat-sekat dengan ukuran 20 sampai 600 x 5 um. Konidiofornya berbentuk panjang, agak membengkok dan mempunyai sekat yang banyak serta tidak berwarna (hyalin). Konidia mempunyai ukuran yang bervariasi yaitu sekitar 25 hingga 370 x 6.1 um, tergantung media dan suhunya.

Jamur ini menginfeksi tanaman melalui mulut daun tembakau (stomata). Untuk dapat berkecambah konidia membutuhkan air. Konidia dapat disebarkan melalui angin ataupun percikan air. Sporulasi jamur pada permukaan daun terjadi pada suhu 18 – 27oC.

Kemampuan dormansi

Jamur Cescospora nicotianae ini dapat mempertahankan diri dalam waktu yang lama pada sisa-sisa tanaman tembakau, misalnya batang atau daun yang sudah kering. Bahkan bila melekat pada biji tembakau, jamur ini dapat hidup sampai satu tahun lamanya. Konidia dapat juga mempertahankan diri dalam tanah yang halus seperti debu hitam. Tidak hanya tembakau saja yang menjadi inang namun Cescospora nicotianae mampu menjadikan tanaman seperti terong, cabai, kecubung dan masih banyak lagi sebagai inang alternatif sebelum menyerang tanaman tembakau yang berada di dekatnya.

Pengendalian

Berbicara soal pengendalian maka kita harus kembali pada bagaimana kita mengenali lebih jauh musuh kita. Karena musuh kita adalah jamur Cescospora nicotianae, maka langkah yang harus dilakukan adalah mencegah agar jamur tersebut tidak segera menyebar. Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam rangka mencegah dan mengendalikan jamur Cescospora nicotianae ini antara lain :

Melakukan pembersihan sisa-sisa tanaman tembakau yang telah dipanen sehabis tanam. Dengan usaha sanitasi ini maka diharapkan jamur Cescospora nicotianae yang memiliki kemampuan dormasi tersebut tidak mempunyai kesempatan mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman.

Melakukan pemeriksaan pembibitan tembakau yang akan ditanam terhadap gejala penyakit bopeng secara berkala dan intensif. Apabila saat itu terdapat bibit yang mulai menunjukkan gejala terserang bopeng, maka saat itu pula langsung dimusnahkan.

Daun-daun yang telah terkena penyakit bopeng agar segara dipetik supaya tidak menjadi sumber penular bagi daun lainnya.

Untuk menjaga agar jamur tidak melekat pada biji tembakau, maka disarankan agar benih tembakau yang akan digunakan untuk bibit sebaiknya disimpan dalam botol yang tertutup rapat, ditempatkan dalam tabung yang diberi kapur barus selama setahun lebih untuk menghindari perkembangan sporanya.

Bila sudah saatnya panen maka daun harus segera dikutip. Sebaiknya kita menghindari untuk menunda-nuda pemetikan daun terutama bila cuaca berubah dari panas ke dingin karena semakin lama kita menunda maka resiko terserang semakin besar karena jamur Cescospora nicotianae sangat menyukai daun-daun yang telah matang meskipun tidak menutup kemungkinan mereka juga menyerang daun muda.

Jangan membiarkan satu titik Cescospora nicotianae pada daun di lapangan dalam waktu lama. Bila terlihat harus segera dipetik atau dipotong sehingga tidak menyebarkan spora ke daun lain atau terbawa hingga ke bangsal/gudang fermentasi.

Bila sudah terjadi serangan namun dalam skala rendah maka pengendaliannya dapat dilakukan dengan memberikan fungisida bahan aktif tembaga hidroksida seperti Victory 80WP yang bergantian dengan Kocide 50WDG. Tindakan preventif menggunakan fungisida juga dapat dilakukan sejak pembibitan hingga panen. Karena saat ini banyak beredar fungisida kontak juga sistemik, untuk menjaga resistensi jamur Cescospora nicotianae terhadap fungisida tersebut sebaiknya penyemprotan dilakukan secara bergantian.

(Erwin, Pedoman Tekhnis HPT Tembakau , Balai Penelitian Tembakau Deli PTPN II Medan)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: