Sistem Bubu Perangkap teknologi Ramah Lingkungan Pengendalian Tikus

3 01 2009

OIeh: Dr. Mashur

Tikus sawah merupakan bagian penting dalam ekosistem padi sawah di Asia Tenggara pada umumnya. Pada sebagian besar lahan dijumpai beberapa spesies tikus yang hidup di habitat sawah dan daerah sekitamya. Spesies tikus yang menyerang pertanaman padi pada stadia padi persemaian, vegetatif dan generatif dikelompokkan sebagai hama. Meskipun demikian, spesies tikus lainnya kemungkinan mengkonsumsi jenis invertebrata (binatang kecil) dan gulma di lahan sawah, dan kemungkinan lainnya tidak merugikan atau bahkan justru menguntungkan dalam sistem produksi padi. Pada umumnya dalam usahatani padi berskala kecil, hama tikus merupakan penyebab kehilangan hasil yang kronis antara 5-10% per tahun. Pada beberapa dekade terakhir, gambaran tersebut meningkat secara dramatis dimana sebagian besar wilayah telah mengalami peningkatan pola tanam yang intensif setiap tahun. Pada saat mi kerusakan yang diderita petani tidak seperti biasanya dimana dilaporkan kerusakan yang kronis mencapai 15-30% per tahun, bahkan kadang-kadang terjadi kerusakan yang parah antara 50-100%. Di beberapa daerah, petani tidak menanam padi pada musim tertentu karena diperkirakan akan terjadi kerusakan oleh tikus. Kerusakan tikus pada periode awal tanam jarang dianggap dalam hitungan perkiraan kehilangan hasil. Sebagian besar petani dan penyuluh telah berpaling pada penggunaan bahan kimiawi termasuk racum akut, anti koagulan dan agens biologis. Bahan kimia tersebut secara ekonomis jelas memberikan pengaruh dalam segi pembiayaan dan jika digunakan secara tidak tepat dapat membunuh hewan bukan sasaran serta menyebabkan pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Metoda Trap Barrier System (TBS) atau sistem bubu perangkap yang dikelola secara berkelompok sebagai metoda non kimiawi untuk pengendalian tikus pada pertanaman padi di lahan sawah beririgasi. Metoda ini telah diuji dan terbukti efektif dalam menurunkan kerusakan tikus di lahan sawah beririgasi di Indonesia dan Vietnam.

Terdapat beberapa jenis metoda pengendalian tikus sawah secara fisik yang dapat digunakan oleh petani diantaranya penemuan pemagaran yang dirangkai secara sederhana atau pagar plastik yang dirancang untuk mencegah tikus masuk ke pertanaman dengan cara memagari pertanaman secara keseluruhan yang seringkali diterapkan di sekitar gudang penyimpanan. Sistem pemagaran ini kadang-kadang disertai dengan perangkap atau jebakan yang dipasang pada pintu masuk oleh karena itu disebut dengan istilah Trap Barrier System atau TBS, Lam Yuet Ming peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Malaysia, telah mengembangkan konsep TBS untuk lahan sawah beririgasi.

Lebih dari 5 tahun yang lalu dengan dukungan ACIAR, konsep Lam diperbaiki dan diuji di sejumlah lokasi penelitian di Indonesia dan Vietnam. Kemajuan pengembangan TBS yang utama adalah sebagai berikut:

  • Penggabungan antara bubu perangkap dan tanaman perangkap untuk menarik tikus masuk kedalam TBS.
  • Mengembangkan model TBS yang spesifik dan mudah perawatannya.
  • Menggunakan teknologi TBS sebagai dasar pengendalian hama tikus terpadu yang menekankan pada pengelolaan TBS secara berkelompok.

Hasilnya adalah metoda Community Trap Barrier System (CTBS) yang bekerja dengan baik dan sangat bermanfaat serta efektif jika diadopsi oleh seluruh kelompok tani.

Bagian utama dari CTBS adalah petak Trap Barrier System yang berukuran antara 20-50 m2 dan didalamnya terdapat tanaman perangkap. Di sekelilingnya dibuat parit yang diisi air dan lubang masuk tikus dimana pada setiap lubang masuk dipasang bubu perangkap yang dapat menangkap tikus dalam jumlah besar. Tanaman perangkap yang telali terbukti efektif sampai saat ini adalah tanaman perangkap yang ditanam 2-3 minggu lebih awal dari pertanaman padi di sekitarnya.

Tanaman perangkap yang secara aktif menarik tikus dari daerah sekitarnya ke dalam CTBS, menyebabkan perlindungan “halo effect” yang dapat melindungi tanaman dari serangan tikus di sekelilingnva, Hasil dari penelitian lapang menunjukkan bahwa “halo effect” dapat mencapai sejauh 200 m di sekeliling penjuru arah TBS dan juga tergantung pada lokasi CTBS lainnya dan perkampungan.

Satu unit CTBS dapat mengamankan tanaman di sekitarnya dengan luas 10-15 ha. Apabila luas area pertanaman lebih dari 10 ha, maka diperlukan lebih dari satu unit CTBS. Hal ini karena tikus dapat berpindah ratusan meter untuk mencari pakan dan daerah tersebut akan ditempati kembali oleh tikus lain yang berasal dari daerah sekitarnya yang tidak dilindungi oleh CTBS.

CTBS bekerja dengan cara menekan populasi tikus betina melalui tangkapan CTBS dari populasinya sebelum dan selama musim perkembangbiakan. Hal ini akan memperlambat juga pertumbuhan populasi tikus. Setiap tikus betina yang tertangkap sebelum tikus betina tersebut menyusui anaknya yang pertama (pada saat padi stadia matang susu) adalah setara dengan membunuh 30-40 ekor tikus pada saat stadia menjelang panen padi.

Keberhasilan CTBS yaitu dapat menangkap tikus dalam jumlah banyak pada saat tanaman perangkap mencapai stadia matang susu dimana mempunyai daya tarik paling tinggi terhadap tikus disekitarnya. Satu CTBS mampu menangkap tikus dalam jumlah banyak hingga akhir musim pertanaman dan ketidak efektifan TBS kemungkinan disebabkan pemasangan atau perawatan yang kurang baik. TBS sebaiknya diletakkan berdekatan dengan habitat pertanaman atau habitat tanpa pertanaman dimana tikus tidak berhasil dikendalikan dengan metoda lain yang tersedia (lihat metoda pengendalian lainnya).

CTBS dirancang dari bahan yang mudah didapat dan mudah untuk dipasang. Akan tetapi diperlukan keterampilan khusus untuk mendukung keberhasilan suatu CTBS:

Bahan

  1. Plastik untuk bahan pagar (bahan yang lebih kuat akan lebih tahan lama, mampu menahan tiupan angin yang kuat dan dapat digunakan lagi pada musim berikutnya);
  2. Ajir bambu atau kayu untuk menegakkan berdirinya pagar plastik dan bubu perangkap;
  3. Tali plastik atau kawat untuk menegakkan pagar plastik;
  4. Stapler dan staples untuk merekatkan plastik pada tali kawat;
  5. Bubu perangkap (‘multiple trap’);
  6. Jenis perangkap lainnya (‘single trap’) untuk digunakan menangkap tikus yang mugkin lolos masuk kedalam petak tanaman perangkap.

Pemasangan

  • Dipilih petakan sawah berukuran kira-kira 20-50 m;
  • Digunakan ajir bambu dan tali/kawat untuk menegakkan pagar plastik pada petakan dan untuk lebih meyakinkannya perlu ditanam 10 cm dibawah tanah dan tinggi 60 cm di atas tanah;
  • Menggali atau melebarkan saluran air yang telah ada untuk membuat saluran air dengan lebar minimal setengah meter;
  • Dipasang paling sedikit dua bubu perangkap pada masing-masing sisi (harus dipasang serapat mungkin dengan pagar, tanpa celah yang memungkinkan tikus masuk menerobos diluar pintu perangkap);
  • Dibuat jalan masuk dengan meletakkan lumpur didepan pintu masuk perangkap;
  • Perangkap (‘Single trap’) diletakkan didalam pagar untuk menangkap tikus yang dapat lolos masuk dan berada didalam pagar (tanaman perangkap);
  • Tanaman perangkap ditanam 2-3 minggu lebih awal dari pertanaman di sekitarnya.

Pemeliharaan

  • Kosongkan perangkap dari tangkapan tikus sedini mungkin pada setiap pagi (tikus mati yang tertinggal di dalam perangkap akan mengganggu masuknya tikus lain);
  • Periksa apakah terdapat lubang pada pagar plastik dan perbaiki atau dipasang bubu perangkap baru;
  • Hindarkan saluran air dari rumput/gulma (karena tikus dapat menggunakannya sebagai sarana untuk meloncat kedalam melewati pagar plastik);
  • Tutupi perangkap dengan jerami dan sediakan pakan (misalnya ubi) agar tikus yang tertangkap dalam kondisi yang lebih baik;
  • Jika pemerikasaan CTBS tidak dapat dilakukan selama beberapa hari, sumbat lubang masuk perangkap dengan jerami.

Penerapan CTBS

Metoda CTBS yang ada pada saat ini direkomendasikan untuk digunakan di lahan sawah beririgasi dan terbukti sangat efektif apabila beberapa syarat ini dipenuhi:

  • Kerusakan tikus yang terjadi diperkirakan mencapai 10% atau lebih tinggi;
  • Unit CTBS harus dipasang secara benar dan terpelihara;
  • Beberapa unit CTBS dipasang tersebar dari dalam suatu hamparan persawahan;
  • Umur pertanaman padi kurang lebih sama dan memiliki perbedaan periode berat minimal 1-2 minggu;
  • CTBS dalam suatu hamparan akan efektif apabila dikelola secara berkelompok atau tingkat desa; dan
  • Tidak ada sumber pakan di daerah tersebut yang kualitasnya melebihi dari padi bunting sebagai tanaman perangkap.

Adaptasi metoda CTBS mungkin juga cocok diterapkan untuk pengendalian tikus di lahan kering atau lahan padi tadah hujan dan untuk perlindungan tanaman lainnya. Akan tetapi masih sangat sedikit informasi mengenai ekologi hama tikus di habitat tersebut dan mungkin terdapat kendala lain seperti ketersediaan air untuk menanam tanaman penangkap lebih awal. Penelitian lanjutan mengenai masalah tersebut dan isu yang terkait dengan hal tersebut sedang dalam penelitian (Penulis adalah Kepala BPTP NTB dan tulisan diambil dari Nota Ringkasan Penelitian AC/AR Partner in Research for Development RN 26 9/01).

az

[]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: